Sabtu, 07 Januari 2012

KETERAMPILAN BERBICARA


KETERAMPILAN  BERBICARA

A.   Pendahuluan
Keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa karena kompetensi keterampilan berbicara adalah komponen terpenting dalam tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran keterampilan berbicara perlu mendapat perhatian agar siswa mampu berkomunikasi dengan baik. Perkembangan teknologi informasi yang lebih canggih saat ini seperti media cetak, media elektronik, dan berbagai hiburan telah menggusur kegiatan berbicara siswa. Hal demikian diperburuk oleh sikap orang tua yang tidak memperhatikan anak-anaknya karena orang tua sibuk bekerja. Orang tua membiarkan anak-anaknya larut dalam tayangan televisi yang dapat menghambat perkembangan keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, salah satunya adalah keterampilan berbicara.
Biasanya siswa lancar berkomunikasi dalam situasi tidak resmi atau di luar sekolah, tetapi ketika mereka diminta berbicara di depan kelas siswa mengalami penurunan kelancaran berkomunikasi. Djago Tarigan (1992: 143) berpendapat bahwa ada sejumlah siswa masih merasa takut berdiri di hadapan teman sekelasnya. Bahkan tidak jarang terlihat beberapa siswa berkeringat dingin, berdiri kaku, lupa yang akan dikatakan apabila ia berhadapan dengan sejumlah siswa lainnya. Sebagaimana disebutkan oleh Supriyadi (2005: 179) bahwa sebagian besar siswa belum lancar berbicara dalam bahasa Indonesia. Siswa yang belum lancar berbicara tersebut dapat disertai dengan sikap siswa yang pasif, malas berbicara, sehingga siswa merasa takut salah dan malu, atau bahkan kurang berminat untuk berlatih berbicara di depan kelas.
Berbicara sebagai salah satu dari empat keterampilan berbahasa memiliki peran yang sangat penting dalam berkomunikasi. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan siswa agar mampu berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis. Selain untuk meningkatkan siswa agar mampu berkomunikasi, pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar siswa memiliki sikap positif yaitu mau menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam berkomunikasi. Komponen yang paling penting dalam berkomunikasi adalah keterampilan berbicara. Nurhadi (1995: 342) menjelaskan bahwa berbicara merupakan salah satu aspek kemampuan berbahasa yang berfungsi untuk menyampaikan informasi secara lisan. Berbicara berarti mengemukakan ide atau pesan lisan secara aktif. Dalam menyampaikan pesan, informasi yang disampaikan harus mudah dipahami oleh orang lain agar terjadi komunikasi secara lancar.
Berbicara merupakan salah satu kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Dengan berbicara siswa dapat berkomunikasi dengan siswa lainnya. Berbicara selalu tidak jauh-jauh dengan bahasa, karena bahasa merupakan unsur penting dalam berkomunikasi dengan manusia yang lain. Komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal menggunakan bahasa sebagai sarana, sedangkan komunikasi non verbal menggunakan sarana gerak-gerik seperti warna, gambar, bunyi bel, dan sebagainya. Komunikasi verbal dianggap paling sempurna, efisien, dan efektif.
Dalam situasi seperti ini setiap individu dituntut untuk terampil berbicara. Para siswa dalam proses pendidikannya dituntut untuk dapat mengekspresikan pengetahuan yang telah mereka miliki secara lisan merekapun harus terampil mengajukan pertanyaan untuk menggali dan mendapatkan informasi apalagi dalam kegiatan diskusi, tanya jawab, debat antarsiswa, mereka dituntut terampil adu argumentasi, terampil menjelaskan persoalan dan pemecahannya, dan terampil menarik simpati para pendengarnya.
Interaksi antara pembicara dan pendengar ada yang langsung dan ada pula yang tidak langsung. Interaksi langsung dapat bersifat dua arah atau multi arah, sedangkan interaksi tak langsung bersifat searah. Pembicara berusaha agar pendengar memahami atau menangkap makna apa yang disampaikannya. Komunikasi lisan dalam setiap contoh berlangsung dalam waktu, tempat, suasana yang tertentu pula. Sarana untuk menyampaikan sesuatu itu mempergunakan bahasa lisan.
Dengan konsep dasar berbicara sebagai alat untuk berkomunikasi ini, pengajaran keterampilan berbicara diharapkan aktif interaktif baik dua arah atau multi arah. Dengan demikian pengajaran keterampilan berbicara bukan lagi sesuatu yang monoton dan tanpa makna, namun mendapat respon yang aktif dari audien. Inilah yang melatar belakangi pembuatan makalah ini, yakni pengajaran keterampilan berbicara harus berlandaskan konsep dasar komunikasi.
B.   Pembahasan
1. Hakikat Berbicara
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2008: 196) tertulis bahwa berbicara adalah “berkata, bercakap, berbahasa atau melahirkan pendapat (dengan perkataan, tulisan, dan sebagainya) atau berunding”.
Berbicara secara umum dapat diartikan suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain(Depdikbud, 1984:3/1985:7). Pengertiannya secara khusus banyak dikemukakan oleh para pakar. Henry Guntur Tarigan (2008:16), mengemukakan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Sedangkan sebagai bentuk atau wujudnya berbicara disebut sebagai suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
Sty Slamet (2007:12) menjelaskan bahwa berbicara adalah kegiatan mengekspresikan gagasan, perasaan, dan kehendak pembicara yang perlu diungkapkan kepada orang lain dalam bentuk ujaran. Sedangkan menurut Sabarti Ahdiah (1992:3) berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Selanjutnya Nurhatim (2009:1) berbicara adalah bentuk komunikasi verbal yang dilakukan manusia dalam rangka pengungkapan gagasan dan ide yang telah disusun dalam pikiran.
Menurut Suharyanti (1996:5), berbicara adalah suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) yang dapat dilihat (visualble) yang memanfaatkan sejumlah otot dan  jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan yang dikomunikasikan
Maeda G Arsjad dan Mukti U.S. (1988:17) menjelaskan bahwa kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata yang mengekspresikan, menyatakan, dan menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian (juncture).
Chaney (Hayriye Kayi, 2009:1) mendefinisikan speaking is theprocessof building and sharing meaning throught the use of verbal and non verbal symbols, in variety of contexts, yang artinya berbicara adalah proses menyampaikan berbagai maksud dan tujuan secara lisan dan tanpa memakai simbol – simbol dalam berbagai hal. Menurut Hayriye Kayi pula bahwa speaking is a crucial part of second language learning and teaching yang artinya berbicara merupakan suatu bagian dari pembelajaran berbahasa dan kegiatan mengajar.
Berbicara pada hakikatnya merupakan suatu proses komunikasi sebab di dalamnya terjadi pemindahan pesan dari suatu sumber ke tempat lain (Haryadi dan Zamzani, 1997:54).
Berbicara merupakan salah satu aspek yang penting dibelajarkan kepada siswa karena berbicara melibatkan kegiatan produktif siswa dalam menyampaikan ujaran secara lisan (Nurhatim, 2009:1). Dalam kegiatan berbicara akan dapat berjalan dengan baik apabila antar pembicara sama- sama menguasai bahasa pendengar (Sty Slamet, 2007:12).
Berbicara merupakan tuntutan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial (homo homine socius) agar mereka dapat berkomunikasi dengan sesamanya Stewart dan Kenner Zimmer (Depdikbud, 1984/85:8) memandang kebutuhan akan komunikasi yang efektif dianggap sebagai suatu yang esensial untuk mencapai keberhasilan dalam setiap individu, baik aktivitas individu maupun kelompok. Kemampuan berbicara yang baik sangat dibutuhkan dalam berbagai jabatan pemerintahan, swasta, juga pendidikan. Seorang pemimpin, misalnya, perlu menguasai keterampilan berbicara agar dapat menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi terhadap program pembangunan. Seorang pedagang perlu menguasai keterampilan berbicara agar dapat meyakinkan dan membujuk calon pembeli. Demikian halnya pendidik, mereka dituntut menguasai keterampilan berbicara agar dapat menyampaikan informasi dengan baik kepada anak didiknya. (http://makalahdanskripsi. blogspot.com/2009/03/ pengertian-berbicara.html)
Dari uraian pengertian berbicara di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa:
a. Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekpresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.
b. Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
c. Berbicara adalah proses individu berkomunikasi dengan lingkungan masyarakat untuk menyatakan din sebagai anggota masyarakat.
d. Berbicara adalah ekspresi kreatif yang dapat memanifestasikan kepribadiannya yang tidak sekedar alat mengkomunikasikan ide belaka, tetapi juga alat utama untuk menciptakan dan memformulasikan ide baru.
e. Berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari di lingkungan keluarga, tetangga, dan lingkungan lainnya di sekitar tempatnya hidup sebelum masuk sekolah.
2.      Proses Berbicara
Proses keterampilan berbicara dimulai sejak kecil. Ketika manusia belajar dari mendengar atau menyimak kemudian berbicara sesuai apa yang ia dengar, dilanjutkan dengan belajar membaca dan menulis. Berbicara sendiri merupakan aspek yang sangat mendukung dalam proses komunikasi secara lisan yaitu dengan belajar berbicara maka belajar berkomunikasi. Manusia sendiri setiap harinya hakehidupan manusia
Manusia kemudian dapat berkomunikasi dengan bahasa dan berbicara agar maksud yang ingin disampaikan dapat tersampaikan kepada rekan bicara. Tahap ini akan berlanjut dengan berbicara untuk menyampaikan ide atau gagasan kepada pendengar di muka umum. Dalam tahap ini ada beberapa orang yang mengalami kendala. Alasan terbesar dari kondisi ini adalah karena kurang percaya diri yang mengakibatkan demam panggung.
Ellis, (Rofi’uddin dan Zuchdi 2001: 7) mengemukakan adanya tiga cara untuk mengembangkan secara vertikal dalam meningkatkan kemampuan berbicara, yaitu: (1) menirukan pembicaraan orang lain (khususnya guru); (2) mengembangkan bentuk-bentuk ujaran yang telah dikuasai; dan (3) mendekatkan atau menyejajarkan dua bentuk ujaran, yaitu bentuk ujaran sendiri yang benar dan ujaran orang dewasa (terutama guru) yang sudah benar. Maidar G. Arsjad dan Mukti U. S. (1988: 31) menyatakan suksesnya sebuah pembicaraan sangat tergantung kepada pembicara dan pendengar. Untuk itu dituntut beberapa peryaratan kepada seorang pembicara dan pendengar. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang pembicara, yaitu; (1) menguasai masalah yang dibicarakan; (2) mulai berbicara kalau situasi sudah mengizinkan; (3) pengarahan yang tepat akan dapat memancing perhatian pendengar; (4) berbicara harus jelas dan tidak terlalu cepat; (5) pandangan mata dan gerak-gerik yang membantu; (6) Pembicaraan sopan, terhormat, dan melihatkan rasa persaudaraan; (7) dalam komunikasi dua arah, mulailah berbicara kalau sudah dipersilahkan; (8) kenyaringan suara; (9) pendengar akan lebih terkesan kalau ia dapat menyaksikan pembicaraan sepenuhnya.
Bukti proses keterampilan berbicara ini ditunjukkan ketika seseorang senang mendengarkan atau menyimak, membaca dan menulis maka kemampuan berbicaranya akan baik, karena menguasai bahan yang cukup untuk dibicarakan atau didiskusikan dengan rekan bicara. Apalagi disertai dengan kepercayaan diri pengalaman yang cukup, maka seseorang tersebut akan fasih berbicara di depan umum tanpa canggung. Bahkan seseorang yang pandai berbicara di depan umum akan mampu mempengaruhi pendengarnya. Tompkins dan Hoskisson (Rofi’uddin dan Zuchdi 2001: 8) menyatakan bahwa proses pembelajaran berbicara dengan berbagai jenis kegiatan, yaitu percakapan berbicara estetik, berbicara untuk menyampaikan informasi atau untuk mempengaruhi kegiatan berbicara dengan bercerita. Langkah- langkahnya di uraikan sebagai berikut.
a.       Percakapan
1)      Memulai percakapan seorang murid secara sukarela atau dengan ditunjuk guru membuka pembicaraan.
2)      Menjaga berlangsungnya percakapan Apabila terjadi perbedaan selama mengadakan percakapan murid murid harus dapat mengatasinya dengan baik sehingga tidak terjadi pertengkaran.
3)      Mengakhiri percakapan Murid-murid seharusnya dapat mencapai suatu persetujuan, sudah menjawab semua pertanyaan atau sudah melaksanakan tugas dengan baik.
b.      Berbicara Estetik (mendongeng)
1)      Memilih cerita Hal yang paling penting dalam memilih cerita adalah memilih cerita yang menarik.
2)      Menyiapkan diri untuk bercerita Murid-murid hendaknya membaca kembali dua atau tiga kali cerita yang akan diceritakan untuk memahami perwatakan pelaku-pelakunya dan dapat diceritakannya secara urut.
3)      Menambah barang-barang yang diperlukan Tiga barang yang dapat digunakan untuk membuat cerita lebih menarik ialah gambar-gambar yang ditempelkan di papan, boneka dan benda-benda yang menggambarkan pelaku binatang atau barang-barang yang diceritakan.
4)      Bercerita atau mendongeng. Dapat dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil sehingga penggunaan waktunya dapat efisien.
5)      Berbicara Untuk Menyampaikan Informasi atau Mempengaruhi Ketiga macam bentuk kegiatan yang termasuk jenis kegiatan ini ialah melaporkan informasi secara lisan, melakukan wawancara dan berdebat.
c.       Kegiatan Dramatik.
Memiliki kekuatan sebagai teknik pembelajaran bahasa karena melibatkan murid- murid dan kegiatan berpikir logis dan kreatif.
3.      Faktor-faktor Penunjang Keterampilan Berbicara
Dalam berkomunikasi seseorang harus memperhatikan faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi dan menunjang kegiatan berbicara. Hal ini dimaksudkan agar dapat mencapai hasil yang memuaskan seperti yang telah direncanakan dan ditargetkan. Keterampilan berbicara seseorang sangat dipengaruhi oleh dua faktor penunjang utama yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah segala sesuatu potensi yang ada di dalam diri orang tersebut, baik fisik maupun nonfisik (psikis). Faktor fisik adalah menyangkut dengan kesempurnaan organ-organ tubuh yang digunakan didalam berbicara misalnya, pita suara, lidah, gigi, dan bibir, sedangkan faktor nonfisik diantaranya adalah: kepribadian (kharisma), karakter,temparamen, bakat (talenta), cara berfikir dan tingkat intelegensi. Sedangkan faktor eksternal misalnya tingkat pendidikan, kebiasaan, dan lingkungan pergaulan (http://putrychan. Wordpress.com/2009/07/18/tugas-dasar-dasar-berbicara/).
Untuk dapat menjadi pembicara yang baik, seorang pembicara selain harus memberikan kesan bahwa ia menguasai masalah yang dibicarakan, si pembicara juga harus memperlihatkan keberaniannya. Selain itu pembicara harus berbicara dengan jelas dan tepat. Keterampilan berbicara ditunjang oleh beberapa faktor, yang oleh Maidar G. Arsjad dan Mukti U. S. (1988: 17) dikelompokkan kedalam dua unsur, yakni faktor kebahasaan dan faktor nonkebahasaan.
a.       Faktor-faktor kebahasaan sebagai penunjang keefektifan berbicara, antara lain.
1)      Ketepatan ucapan;
2)      Penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai;
3)      Pilihan kata (diksi); dan
4)      Ketepatan sasaran pembicaraan.
b.      Faktor nonkebahasaan yang mendukung keterampilan berbicara, antara lain.
1)      Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku;
2)      Pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara;
3)       Kesediaan menghargai pendapat orang lain;
4)       Gerak-gerik dan mimik yang tepat;
5)       Kenyaringan suara juga sangat menentukan;
6)      Kelancaran, relevansi/penalaran, dan
7)      Penguasaan topik.
Menurut Marwoto dan Yant Mujiyanto (1998: 2) berbicara juga memerlukan beberapa hal yang mendukung keterampilan tersebut, diantaranya: (1) penalaran bahasa, logika, metodologi, sistematika, transformasi IPTEKS (ilmu pengetahuan, teknologi, agama, dan seni); (2) kompetensi bahasa; (3) penguasaan materi pembicaraan; (4) konsentrasi yang tinggi; (5) pelafalan kata-kata dengan jelas dan fasih; (6) ketenangan jiwa; dan (7) pemahaman psikologi massa serta ekspresi wajah dan anggota badan yang mendukung.
Mulgrave (Henry Guntur Tarigan, 2008: 16) memberikan batasan mengenai penunjang keterampilan berbicara, antara lain: (1) pemahaman berbicara terhadap penyimak dan bahan pembicaraan; (2) sikap yang tenang dan mudah menyesuaikan diri; serta (3) kewaspadaan dan antusiasme sang pembicara. Sementara itu, Henry Guntur Tarigan (2008: 5) menuturkan bahwa kemampuan berbahasa lisan mencakup ujaran yang jelas dan lancar, kosakata yang luas dan beraneka ragam, penggunaan kalimat-kalimat yang lengkap dan sempurna bila diperlukan, pembedaan pendengaran yang tepat, dan kemampuan mengikuti serta menelusuri perkembangan urutan suatu cerita, atau menghubungkan kejadian-kejadian dalam urutan yang wajar serta logis.
Di samping itu, Powers (Henry Guntur Tarigan, 2008: 20) pun turut mengetengahkan beberapa hal yang menunjang keberhasilan sesorang pembicara dalam mengembangkan keterampilannya tersebut. Menurutnya, ada empat keterampilan yang menunjang keterampilan berbicara seperti yang dijelaskan sebagai berikut:
a.       Keterampilan sosial ialah kemampuan untuk berpartisipasi secara efektif dalam hubungan-hubungan masyarakat. Keterampilan ini menuntut seorang pembicara untuk mengetahui beberapa hal sebagai berikut.
1)      Apa yang harus dikatakan?
2)      Bagaimana cara mengatakannya?
3)      Kapan mengatakannya?
4)      Kapan tidak mengatakannya?
b.      Keterampilan semantik adalah kemampuan untuk mempergunakan kata-kata dengan tepat dan penuh pengertian.
c.       Keterampilan fonetik yakni kemampuan membentuk unsur-unsur fonemik bahasa kita secara tepat. Hal ini berkaitan dengan hubungan-hubungan perorangan yang menentukan apakah seseorang itu diterima sebagai anggota kelompok atau sebagai orang luar.
d.      Keterampilan vokal yakni kemampuan untuk menciptakan efek emosional yang diinginkan dengan suara pembicara. Hal ini bisa dilakukan melalui suara, karena hal ini mampu memperlihatkan kepribadian seseorang.
Dapat disimpulkan bahwa keberhasilan seseorang untuk dapat terampil berbicara ditunjang oleh beberapa faktor yang terbagi menjadi dua, yakni faktor kebahasaan dan nonkebahasaan. Faktor kebahasaan berkaitan dengan penguasaan unsur-unsur linguistik dan kaidah tata bahasa lainnya, sedangkan nonkebahasaan berhubungan dengan penguasaan diri, sikap, dan hubungan sosial pembicara.
4.    Tujuan Berbicara
Tujuan berbicara adalah untuk menginformasikan, untuk melaporkan sesuatu hal pada pendengar. Sesuatu tersebut dapat berupa, menjelaskan sesuatu proses, menguraikan, menafsirkan, atau menginterpretasikan sesuatu hal, memberi, menyebarkan, atau menanamkan pengetahuan, menjelaskan kaitan, hubungan, relasi antara benda, hal, atau peristiwa.
5.    Fungsi Berbicara
Fungsi umum berbicara ialah sebagai alat komunikasi sosial. Berbicara sangatlah menyatu dengan kehidupan manusia,dan setiap manusia menjadi anggota masyarakat. Aktivitas sebagai anggota masyarakat sangat tergantung pada penggunaan tutur kata masyarakat setempat. Gagasan, ide,pemikiran,harapan dan keinginan disampaikan dengan berbicara. Aksi dan reaktif manusia dalam kelompok masyarakat tergantung pada tutur kata yang digunakan karena keslamatan seseorang itu ada pada pembicaraannya.
Dapatkah anda membayangkan kehidupan tanpa ada yang berbicara? Komunikasi pun akan terputus,dan bias – bias peradapan manusia tidak akan pernah maju. Sesungguhnya dengan berbicara itu menandakan keberadapan manusia dan dari bahasa atau bicara tersebut kita dapat memahami keinginan, motif, latar belakang, pergaulan dan adat istiadat seseorang.
Adapun fungsi berbicara secara khusus ialah :
a.    Berbicara berfungsi untuk mengungkapkan perasaan seseorang.
b.    Berbicara berfungsi untuk memotivasi orang lain agar bersikap dan berbuat sesuatu.
c.    Berbicara berfungsi untuk membicarakan sesuatu permasalahan dengan topik tertentu.
d.    Berbicara berfungsi untuk menyampaikan pendapat, amanat, atau pesan.
e.    Berbicara berfungsi untuk saling menyapa atau sekedar untuk mengadakan kontak.
f.     Berbicara berfungsi untuk membicarakan masalah dengan bahasa tertentu.
g.    Berbicara berfungsi sebagai alat penghubung antar daerah dan budaya
6.    Relevansi Berbicara dengan Keterampilan Bahasa Lainnya
Berbicara merupakan keterampilan dalam menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain. Penggunaan bahasa secara lisan dapat pula dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi berbicara secara langsung adalah sebagai berikut: (a) pelafalan; (b) intonasi; (c) pilihan kata; (d) struktur kata dan kalimat; (e) sistematika pembicaraan; (f) isi pembicaraan; (g) cara memulai dan mengakhiri pembicaraan; dan (h) penampilan.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut dapat ditelusuri relevansi materi keterampilan Berbicara dengan materi bahasa lainnya. Dari segi pelafalan Berbicara berkaitan dengan Fonologi. Dari segi intonasi Berbicara berkaitan dengan Sintaksis. Dari segi pilihan kata  Berbicara berkaitan dengan Semantik. Dari segi struktur kata  Berbicara berkaitan dengan Linguistik dan Sintaksis. Dari segi sistematika dan isi pembicaraan Berbicara berkaitan dengan Wacana. Berbicara juga berkaitan dengan Analisis Kesalahan Berbahasa karena dalam berbicara orang sering membuat kesalahan pelafalan, intonasi, pilihan kata, struktur kata, dan kalimat.
Aspek-aspek keterampilan bahasa lainnya yang berkaitan dengan keterampilam berbicara adalah menyimak, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut berkaitan erat, antara berbicara dengan menyimak, berbicara dengan menulis, dan berbicara dengan membaca.
a.    Hubungan Berbicara dengan Menyimak
Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan yang berbeda namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbicara. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, bertelepon, tanya-jawab, interview, dan sebagainya.
Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi, tidak ada gunanya orang berbicara bila tidak ada orang yang menyimak. Tidak mungkin orang menyimak bila tidak ada orang yang berbicara. Melalui kegiatan menyimak siswa mengenal ucapan kata, struktur kata, dan struktur kalimat.
Keterampilan berbicara menunjang keterampilan bahasa lainnya. Pembicara yang baik mampu memberikan contoh agar dapat ditiru oleh penyimak yang baik. Pembicara yang baik mampu memudahkan penyimak untuk menangkap pembicaraan yang disampaikan.
Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan berbahasa lisan, dua-duanya berkaitan dengan bunyi bahasa. Dalam berbicara seseorang menyampaikan informasi melalui suara atau bunyi bahasa, sedangkan dalam menyimak seseorang mendapat informasi melalui ucapan atau suara.
Berbicara dan menyimak merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan, kegiatan berbicara selalu disertai kegiatan menyimak, demikian pula kegiatan menyimak akan didahului kegiatan berbicara. Keduanya sama-sama penting dalam komunikasi.
b.     Hubungan Berbicara dengan Membaca
Berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana, dan fungsi. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi.
Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.
c.    Hubungan Berbicara dengan Menulis
Kegiatan berbicara maupun kegiatan menulis bersifat produktif-ekspresif. Kedua kegiatan itu berfungsi sebagai penyampai informasi. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis.
Informasi yang digunakan dalam berbicara dan menulis diperoleh melalui kegiatan menyimak ataupun membaca. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan dalam kegiatan berbicara menunjang keterampilan menulis. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan menunjang keterampilan berbicara.

Tidak ada komentar: