Sabtu, 07 Januari 2012

KETERAMPILAN MENULIS


KETERAMPILAN MENULIS

A.   Pendahuluan
Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa diakui oleh umum. Menulis merupakan keterampilan yang mensyaratkan penguasaan bahasa yang baik. Dalam belajar bahasa, menulis merupakan kemahiran tingkat lanjut. Semi (1995: 5) berpendapat bahwa pengajaran menulis merupakan dasar untuk keterampilan menulis.
Dalam keterampilan menulis, pembelajar harus menguasai kaidah tata tulis, yakni ejaan, dan kaidah tata bahasa, morfologi dan sintaksis. Di samping itu, penguasaan kosakata yang banyak diperlukan pula.
  Menulis sebagaimana berbicara, merupakan keterampilan yang produktif dan ekspresif. Perbedaannya, menulis merupakan komunikasi tidak bertatap muka (tidak langsung), sedangkan berbicara merupakan komunikasi tatap muka (langsung) (Tarigan , 1994: 2). Menurut Azies dan Alwasilah (1996: 128), keterampilan menulis berhubungan erat dengan membaca. Hal ini diakui pula oleh Semi (1995: 5). Semakin banyak siswa membaca, cenderung semakin lancar dia menulis.
Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini maka penulis haruslah terampil memanfaatkan grafologi,struktur bahasa dan kosakata. Keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur (Tarigan, 1985:4).
Menulis juga merupakan sebuah keterampilan berbahasa yang terpadu, yang ditujukan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan. Sekurang-kurangnya ada tiga komponen yang tergabung dalam perbuatan menulis, di antaranya: (1) penguasaan bahasa tulis, yang akan berfungsi sebagai media tulisan, meliputi: kosakata, struktur kalimat, paragraf, ejaan, pragmatik, dan sebagainya; (2) penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis; dan (3) penguasaan tentang jenis -jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esai, artikel, cerita pendek, makalah, dan sebagainya
Seorang siswa tidak akan mungkin terampil menulis kalau hanya menguasai satu atau dua komponen di antara ketiga komponen tersebut. Betapa banyak siswa yang menguasai bahasa Indonesia secara tertulis, tetapi tidak dapat menghasilkan tulisan karena tidak mengetahui apa yang akan ditulis dan bagaimana menuliskannya. Betapa banyak pula siswa yang mengetahui banyak hal untuk ditulis dan tahu pula menggunakan bahasa tulis tetapi tidak dapat menulis karena tidak tahu caranya.
Menulis bukan pekerjaan yang sulit tetapi juga tidak mudah, untuk memulai menulis, setiap penulis tidak perlu menunggu menjadi seorang penulis yang terampil. Belaja r teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikkannya tidak cukup sekali dua kali. Frekuensi latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis-menulis.
Senada dengan pernyataan tersebut, Muchlishoh (1992: 1) menyatakan bahwa pelajaran bahasa Indonesia selama ini sangat kurang melatih anak dalam keterampilan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Siswa lebih banyak diberi pengetahuan dan aturan-aturan tata bahasa tanpa pernah tahu bagaimana mengaitkannya dalam latihan-latihan menulis dan berbicara. Siswa lebih banyak diberi bekal pengetahuan bahasa daripada dilatih menggunakan bahasa. Akibatnya, setelah mereka lulus, mereka tetap tidak mampu menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, baik untuk komunikasi tulis maupun lisan.
Dalam realitas pembelajaran menulis di Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau sekolah di atasnya masih banyak dijumpai model strategi pembelajaran yang terlalu konvensional. Maksudnya adalah guru maupun sekolah masih cenderung untuk menjadikan suatu metode atau strategi pembelajaran itu sebagai sesuatu yang baku. Sehingga guru maupun sekolah cenderung tidak kreatif dan inovatif, karena terkekang oleh satu model strategi pembelajaran saja. Namun demikian, tidak dipungkiri juga bahwa banyak sekolah sudah menerapkan berbagai strategi keanekaragaman model tersebut semakin mendorong guru atau sekolah untuk sekedar mencari mana yang terbaik. Jadi, guru maupun sekolah masih terpola untuk menjadikan satu model strategi pembelajaran sebagai sesuatu patokan yang baku dan kaku, bukan sebagai sarana untuk peningkatan variasi pembelajaran dan sarana kreatif guru maupun sekolah.
Pun dalam pembelajaran menulis, metoda yang kreatif, inovatif dan menyenangkan senantiasa disajikan guru kepada para siswanya. Siswa dapat belajar secara efektif dan menyenangkan.
B.     Hakikat Menulis
Menulis adalah kegiatan penyampaian pesan (gagasan, perasaan, atau informasi) secara tertulis kepada pihak lain. Dalam kegiatan berbahasa menulis melibatkan empat unsur, yaitu penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, medium tulisan, serta pembaca sebagai penerima pesan. Kegiatan menulis sebagai sebuah perilaku berbahasa memiliki fungsi dan tujuan: personal, interaksional, informatif, instrumental, heuristik, dan estetis.
Sebagai salah satu aspek dari keterampilan berbahasa, menulis atau mengarang merupakan kegiatan yang kompleks. Kompleksitas menulis terletak pada tuntutan kemampuan untuk menata dan mengorganisasikan ide secara runtut dan logis, serta menyajikannya dalam ragam bahasa tulis dan kaidah penulisan lainnya. Akan tetapi, di balik kerumitannya, menulis menjanjikan manfaat yang begitu besar dalam membantu pengembangan daya inisiatif dan kreativitas, kepercayaan diri dan keberanian, serta kebiasaan dan kemampuan dalam menemukan, mengumpulkan, mengolah, dan menata informasi.
Sayangnya, tidak banyak orang yang suka menulis. Di antara penyebabnya ialah karena orang merasa tidak berbakat serta tidak tahu bagaimana dan untuk apa menulis. Alasan itu sebenarnya tak terlepas dari pengalaman belajar yang dialaminya di sekolah. Lemahnya guru, kurangnya model, dan kekeliruan dalam belajar menulis yang melahirkan mitos-mitos tentang menulis, memperparah keengganan orang untuk menulis.
Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa tak dapat dilepaskan dari aspek-aspek keterampilan berbahasa lainnya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi. Pengalaman dan masukan yang diperoleh dari menyimak, berbicara, dan membaca, akan memberikan kontribusi berharga dalam menulis. Begitu pula sebaliknya, apa yang diperoleh dari menulis akan berpengaruh pula terhadap ketiga corak kemampuan berbahasa lainnya. Namun demikian, menulis memiliki karakter khas yang membedakannya dari yang lainnya. Sifat aktif, produktif, dan tulis dalam menulis, memberikannya ciri khusus dalam hal kecaraan, medium, dan ragam bahasa yang digunakannya.
Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang harus dipelajari siswa. Keterampilan ini tidak selalu mudah dilakukan. Diperlukan proses belajar dan latihan untuk mengasah bakat dan keterampilan menulis yang sudah ada. Dengan berdasar pada betapa pentingnya keterampilan menulis ini, para ahli banyak yang mencoba mendefinisikan keterampilan atau kegiatan menulis ini sesuai dengan pandapatnya masing-masing. Berikut akan disampaikan beberapa pengertian menulis menurut para ahli.
Menurut Djuharie (2005: 120), menulis merupakan suatu keterampilan yang dapat dibina dan dilatihkan. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan Ebo (2005:1), bahwa setiap orang bisa menulis. Artinya, kegiatan menulis itu dapat dilakukan oleh setiap orang dengan cara dibina dan dilatihkan. Mengenai pengertian menulis, Pranoto (2004: 9) berpendapat, bahwa menulis berarti menuangkan buah pikiran ke dalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan. Menulis juga dapat diartikan sebagai ungkapan atau ekspresi perasaan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Dengan kata lain, melalui proses menulis kita dapat berkomunikasi secara tidak langsung.
Batasan menulis menurut Tarigan (1994: 21), yaitu menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik, menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambar grafik itu.
Gambar atau lukisan mungkin dapat menyampaikan makna-makna, tetapi tidak menggambarkan kesatuan-kesatuan bahasa. Menulis merupakan suatu representasi bagian dari kesatuan-kesatuan ekspresi bahasa. Hal ini merupakan perbedaan utama antara lukisan dan tulisan, antara melukis dan menulis
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diketahui hasil kegiatan menulis adalah sebuah tulisan. Hasil sebuah tulisan pada dasarnya adalah untuk menyampaikan pikiran, pendapat, atau gagasan yang muncul. Mengingat fungsi utama kegiatan menulis merupakan sarana berkomunikasi secara tidak langsung, maka penting bagi para peserta didik untuk mempelajari keterampilan menulis. Selain dapat meningkatkan kecakapan berpendapat, menulis juga dapat melatih siswa menuangkan ide pikirannya dengan lebih mudah. Dapat disimpulkan, menulis adalah kegiatan yang produktif dan ekspresif dengan cara mengungkapkan gagasan yang ada dalam pikiran kita ke dalam bentuk tulisan.
Menulis adalah menyampaikan ide atau gagasan dan pesan dengan menggunakan lambang grafik (tulisan). Tulisan adalah suatu system komunikasi manusia yang menggunakan tanda-tanda yang dapat dibaca atau dilihat dengan nyata. Tarigan (Agus Suriamiaharja, 1996 : 1), mengembangkan bahwa : “Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang – lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipakai oleh seseorang, sehinga orang lain dapat membaca lambang – lambanga grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tersebut “.
Sedangkan Robert Lodo (Suriamiaharja, 1996 : 1), mengatakan bahwa : “Menulis adalah menempatkan simbol – simbol grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dimengerti oleh seseorang, kemudian dapat dibaca oleh orang lain yang memahami bahasa tersebut beserta simbol – simbol grafiknya”.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah kemampuan seseorang dalam melukiskan lambang – lambang grafik untuk menyampaikan ide atau gagasan yang dapat dimengerti oleh orang lain .
C.   Menulis sebagai Proses
Banyak pendapat yang berkaitan dengan belajar-mengajar menulis atau mengarang, seperti yang diungkapkan oleh pendekatan formal, pendekatan gramatikal, pendekatan frekuensi, dan pendekatan koreksi. Pendekatan-pendekatan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi sayangnya tidak menyentuh proses menulisnya itu sendiri.
Sebagai proses, menulis melibatkan serangkaian kegiatan yang terdiri atas tahap prapenulisan, penulisan, dan pascapenulisan. Fase prapenulisan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mempersiapkan sebuah tulisan. Di dalamnya terdiri dari kegiatan memilih topik, tujuan, dan sasaran karangan, mengumpulkan bahan, serta menyusun kerangka karangan. Berdasarkan kerangka karangan kemudian dilakukan pengembangan butir demi butir atau ide demi ide ke dalam sebuah tulisan yang runtut, logis, dan enak dibaca. Itulah fase penulisan. Selanjutnya, ketika buram (draf) karangan selesai, dilakukan penyuntingan dan perbaikan. Itulah fase pascapenulisan, yang mungkin dilakukan berkali-kali untuk memperoleh sebuah karangan yang sesuai dengan harapan penulisnya.
D.     Tujuan Menulis
Sehubungan dengan tujuan menulis suatu tulisan, maka Hugo Hartig dalam Tarigan (1994: 24-25), mengemukakan tujuan menulis sebagai berikut
1.      Assignment purpose (tujuan penugasan)
Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali. Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri (misalnya, para siswa yang diberi tugas merangkum buku; sekretaris yang ditugaskan membuat laporan, notulen rapat).
2.      Altruistic purpose (tujuan altruistik)
Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu.
3.     Persuasive purpose (tujuan persuasif)
Tulisan yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan.
4.     Informational purpose (tujuan informasi atau penerangan)
Tulisan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan/penerangan kepada para pembaca
5.    Self expressive purpose (tujuan pernyataan diri)
Tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca.
6.    Creatif purpose (tujuan kreatif)
Tujuan ini erat berhubungan dengan tujuan pernyataan diri. Tetapi “Keinginan kreatif” di sini melebihi pernyataan diri, dan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai norma artistik, atau seni yang ideal seni idaman. Tulisan yang bertujuan mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai kesenian.
7.    Problem solving purpose (tujuan pemecahan masalah)
Menurut Hipple dalam Tarigan (1994: 25), pada tulisan seperti ini sang penulis ingin memecahkan masalah yang dihadapi. Sang penulis ingin menjelaskan, menjernihkan, menjelajahi, serta meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya sendiri agar dapat dimengerti dan diterima oleh pembaca.
Setiap jenis tulisan mengandung beberapa tujuan. Karena tujuan tulisan beraneka ragam Tarigan (1994: 25) menjelaskan, bagi penulis yang belum berpengalaman ada baiknya memperhatikan kategori di bawah ini:
1.      kategori memberitahukan atau mengajar (informatif);
2.      kategori meyakinkan atau mendesak (persuasif);
3.      kategori menghibur atau menyenangkan; dan
4.      kategori mengutarakan/mengekspresikan perasaan dan emosi yang berapi-api.
E.   Manfaat Menulis
Setiap hal yang dilakukan dan dikerjakan tentunya ingin mendapatkan sesuatu yang berguna dan bermanfaat. Begitu pula dengan kegiatan menulis, banyak manfaat yang dapat diperoleh. Akhadiah (1988: 1-2) menyebutkan beberapa keuntungan dari kegiatan menulis sebagai berikut:
1.      Menulis dapat membuat kita lebih mengenali kemampuan dan potensi diri kita;
2.    Melalui kegiatan menulis kita mengembangkan berbagai gagasan;
3.    Kegiatan menulis memaksa kita lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang ditulis;
4.    Menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematik serta mengungkapkannya secara tersurat. Sehingga, kita dapat menjelaskan permasalahan yang semula samar;
5.    Melalui tulisan kita dapat meninjau serta menilai gagasan;
6.    Dengan menulis di atas kertas kita akan lebih mudah memecahkan permasalahan, yaitu dengan menganalisanya secara tersurat, dalam konteks yang lebih konkret;
7.    Menulis mengenai suatu topik mendorong kita belajar secara aktif;
8.    Kegiatan menulis yang terencana akan membiasakan kita berpikir serta berbahasa secara tertib.
Menurut Djuharie (2005: 126), manfaat terbesar dari kegiatan menulis adalah alat untuk untuk menggali berbagai “fosil ilmu” yang masih terpendam. Manfaat ini dapat dijadikan motivasi untuk memulai membaca dan menulis, karena kegiatan menulis tidak lepas dari kegiatan membaca.
Adapun pendapat Dr. Pannebaker (Hernowo, 2005:34), bahwa keterampilan menulis itu untuk menjernihkan pikiran, mengatasi trauma, membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, serta membantu memecahkan masalah. Intinya dengan menulis segala hal yang kita pikirkan dapat tertuang dan terungkapkan dengan baik
F.    Jenis-jenis Tulisan
1.    Surat
Kata ‘surat’ berarti kertas yang ditulis atau dengan kata lain surat adalah kertas yang berisi tulisan. Jika kita berbicara tentang tulisan maka kaitannya adalah dengan bahasa. Bahasa pada hakikatnya adalah alat komunikasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seseorang membuat atau menulis surat dengan tujuan mengomunikasikan sesuatu kepada orang lain. Secara garis besar surat dapat dikelompokkan menjadi surat pribadi, surat dinas, dan surat yang dibuat untuk kepentingan sosial.
Surat lamaran sebenarnya merupakan salah satu surat pribadi hanya surat ini memiliki tujuan khusus yaitu untuk memperoleh suatu pekerjaan. Surat dinas merupakan surat resmi yang digunakan oleh suatu instansi untuk kepentingan administrasi baik pemerintahan maupun swasta. Dari segi bahasa surat dinas memiliki empat ciri yakni (a) bahasa yang jelas artinya, bahasa yang digunakan tidak memberikan peluang untuk ditafsirkan secara berbeda oleh si penerima surat; (b) bahasa yang lugas dan singkat artinya, bahasa yang digunakan langsung tertuju pada persoalan yang ingin dikemukakan sehingga tidak berbelit-belit; (c) ba-hasa yang santun artinya, bahasa yang digunakan menunjukkan rasa hormat dan penghargaan yang wajar kepada si penerima surat; (d) ba-hasa yang resmi artinya, bahasa yang digunakan mengikuti kaidah baku bahasa Indonesia yang tercermin dari pilihan kata, ejaan, dan struktur kalimat yang digunakan. Surat niaga merupakan salah satu jenis surat dinas, tepatnya surat dinas yang digunakan dalam instansi swasta yaitu pada perusahaan-perusahaan atau badan usaha.
Surat adalah salah satu sarana komunikasi tertulis untuk menyam-paikan suatu pesan dari satu pihak (perorangan, kelompok, atau organisasi) kepada pihak lain. Jenis surat itu sangatlah banyak. Sebagai salah satu sarana bentuk komunikasi tertulis, surat terdiri atas unsur pengirim surat, penerima, pesan (isi surat), dan saluran. Ketersampaian pesan surat akan dipengaruhi oleh keefektifan bahasa, kelogisan dan keruntutan organisasi surat, kejelasan isi, dan kesesuaian format surat yang digunakan.
Surat memiliki sejumlah fungsi. Di antara fungsi surat ialah sebagai wakil pribadi, kelompok, atau organisasi; dasar atau pedoman kerja; bukti tertulis yang otentik; arsip atau alat pengingat; dan dokumen historis. Mengingat berbagai fungsi yang dimiliki surat, maka surat dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis. Klasifikasi jenis surat didasar-kan atas kepentingan dan asal pengirimnya, isi sifat, banyaknya sasaran, tingkat kepentingan penyelesaiannya, wujud, dan ruang lingkup sasarannya.
Berbeda dengan bentuk karangan lainnya, surat memiliki karak-teristik yang sangat khusus. Salah satu kekhasan surat terletak pada bagian-bagiannya. Bagian-bagian ini memiliki kegunaan tertentu. Penataan bagian dan unsur surat tergantung pada format atau bentuk surat yang digunakan. Namun demikian, sebuah organisasi baik pemerintahan, perusahaan, maupun sosial politik, biasanya memiliki format baku yang digunakan dalam organisasi tersebut.

2.    Pengumuman dan Iklan
Iklan setidaknya memiliki dua pengertian. Pertama, iklan adalah berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan. Kedua, iklan adalah pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang dijual, di pasang di media massa, seperti di surat kabar dan majalah, atau di tempat-tempat umum.
Elemen-elemen yang terdapat dalam iklan, menurut Freud D. White, terdiri atas tiga hal yang berfungsi saling menguatkan, yakni tema, ilustrasi, serta naskah dan logo. Sebagaimana dalam wacana, tema memiliki peran yang strategis dalam menyuarakan isi pesan sekaligus menampilkan daya tarik terhadap suatu kepentingan dasar pembaca setelah menyajikan pesan sumber.
Terdapat beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi agar sebuah iklan dapat menarik pembaca atau calon konsumen yaitu, berbentuk pemberitahuan tentang barang dan jasa; menggunakan metode yang dapat memotivasi; dipasang pada media yang sesuai; menggunakan bahasa yang persuasif dan ilustrasi yang menarik.
Iklan adalah salah bentuk penyebaran informasi mengenai suatu produk berupa barang, jasa, atau gagasan, kepada khalayak calon pembeli atau pengguna produk tersebut. Keberadaan iklan bertujuan untuk mengenalkan, memberikan informasi, dan mempengaruhi keputusan khalayak untuk membeli dan menggunakan produk yang diiklankan. Agar penyampaian iklan dapat mencapai sasarannya, maka pengemasan dan penyajian iklan harus mempertimbangkan sejumlah faktor di antaranya sasaran, media, tempat, dan daya pemikat yang diusung oleh sebuah iklan.
Pemasangan iklan itu sendiri dapat dilakukan dalam berbagai bentuk (langsung atau tidak langsung) dan dengan berbagai media (elektronik atau cetak). Pilihan bentuk dan media beriklan akan mempengaruhi cara saji iklan itu sendiri serta biaya yang dikeluarkan. Semakin canggih media yang digunakan, biasanya semakin mahal pula biaya yang dibutuhkan dan semakin tinggi pula kreativitas yang dituntut untuk membuat sebuah iklan.
Iklan dapat dipasang melalui berbagai media yaitu media cetak, elektronik, ragaan, dan udara. Media cetak dapat berupa koran (surat kabar), tabloid, buletin, dan majalah. Media elektronik dapat melalui radio dan televisi, atau film (layar lebar). Media ragaan dapat menggunakan kaos (pakaian), bus, atau papan di tempat umum. Media udara dapat menggunakan pesawat terbang dan balon udara.
Terdapat beberapa kriteria yang harus diperhatikan pembuat iklan. Kriteria ini dapat dikatakan sebagai persyaratan membuat iklan yakni berkenaan dengan etika. Etika beriklan agar iklan tidak hanya dikatakan baik dari segi bisnis tetapi juga baik dari sisi penggunaan bahasa dan bersosialisasi. Etika tersebut adalah mematuhi kaidah-kaidah bahasa, bersaing secara positif, dan tidak mendustai konsumen

3.    Naskah
Kata naskah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai (1) karangan yang masih ditulis tangan; (2) karangan seseorang yang belum diterbitkan; (3) bahan-bahan berita yang siap untuk diset; (4) ran-cangan.
Naskah dapat berupa karya sastra yang masih dalam tulisan tangan, dalam hal ini adalah karya-karya sastra lama. Karya-karya sastra lama sebelum abad 19 pada umumnya ditulis tangan dengan menggunakan wadah daun lontar dan sejenisnya, kulit kayu, dan kulit binatang yang dipilih dan memiliki ketahanan bila disimpan dalam waktu yang cukup lama. Setelah kertas datang dan para penulis mengenal kertas sebagai wadah tulisan, baru kemudian para sastrawan menuliskan karya-karyanya di atas kertas.
Selain pada sastra lama, digunakan pula istilah naskah pada satu genre sastra yaitu drama. Naskah drama digunakan sebagai bahan latihan sebuah kelompok teater. Sejenis dengan naskah drama terdapat naskah film, sinetron, dan televisi yang fungsinya sama dengan naskah drama.
Pengertian lain mengatakan bahwa naskah adalah karangan yang belum diterbitkan. Contoh untuk memahami definisi ini adalah bahan sebuah buku yang masih dalam proses untuk diterbitkan. Artinya, bahan buku tersebut masih ditelaah, diedit atau disunting. Bahan buku yang masih dalam proses ini (pengolahan) disebut juga naskah.
Jenis naskah yang lain adalah naskah berita. Naskah berita berisi informasi yang akan disusun menjadi berita yang akan diterbitkan di surat kabar. Masih berkaitan dengan informasi yang ditulis dan bertujuan untuk diberitahukan kepada khalayak, baik secara tertulis yang berupa selebaran, maupun secara lisan yang berupa ceramah atau pidato juga disebut sebagai naskah. Jenis naskah seperti ini disebut sebagai naskah pengumuman dan naskah pidato.
Pidato tidak hanya dapat diucapkan langsung oleh orang yang berpidato tetapi bisa juga dilakukan dengan membacakan naskah. Pembacaan tersebut bisa dilakukan oleh si pelaku tetapi dapat juga diwakilkan. Untuk keperluan tersebut maka diperlukan naskah pidato.
Oleh karena itu, agar pidato tertulis tersebut dapat mencapai tujuannya hendaknya tulisan tersebut mampu membuat pendengarnya: (a) menarik dan membangkitkan minat, (b) mendapatkan pengetahuan dan pengertian
Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat membuat naskah pidato, (c). gunakan tipe huruf lebih besar dari ukuran 12, (d) gunakan huruf besar dan huruf kecil, karena Anda melihat kata-kata dengan naik dan turun (huruf h dan l bagian atas berada di atas baris, huruf p dan y bagian bawah berada di bawah baris), (e) gunakan spasi ganda sebagai pengingat untuk penghentian lebih lama, (f) Jangan pisahkan kata-kata dengan tanda hubung di akhir baris. (g) gunakan hanya dua pertiga halaman bagian atas untuk menghindari penampilan yang kedodoran, (h) beri nomor halaman pada bagian sudut kanan atas sehingga Anda dapat melihatnya secara cepat bila diperlukan, (i) akhiri tiap halaman dengan kalimat lengkap, dan paragraf lengkap jika memungkinkan. Berdasarkan sifatnya, pidato dibagi menjadi dua macam: (a) Pidato resmi, (b) Pidato tidak resmi

4.    Karangan
Karangan Ilmiah adalah tulisan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan, yang dikomunikasikan lewat bahasa tulis yang formal dengan sistematis-metodis dan sintesis-analitis. Sebagai sebuah tulisan ilmiah, karangan ini memiliki ciri-ciri yang harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif); bersifat metodis dan sistematis; dan dalam pembahasannya menggunakan ragam bahasa ilmiah. Agar suatu karangan mampu memiliki ciri keilmiahannya, karangan jenis ini menuntut adanya persyaratan material, yang di dalamnya mencakup adanya topik yang dibicarakan, tema yang menjadi tujuan/sasaran penulisan, alinea yang merangkaikan pokok-pokok pembicaraan, serta kalimat-kalimat yang mengungkapkan dan mengembangkan pokok-pokok pembicaraan; serta persyaratan formal, yang di dalamnya mencakup tata bentuk karangan, yaitu (1) preliminaries (halaman-halaman awal) yang meliputi judul, kata pengantar, aneka daftar (daftar isi, daftar tabel/bagan/lampiran); (2) main body (isi utama) yang meliputi pendahuluan, isi, dan penutup; (3) reference matter (halaman-halaman akhir) yang meliputi daftar pustaka, lampiran, dan biodata penulis.
Sementara itu, yang dimaksud Karangan semi-ilmiah adalah tulisan yang berisi informasi faktual, yang diungkapkan dengan bahasa semiformal, tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering “dibumbui” dengan opini pengarang yang kadang-kadang subjektif. Atas dasar dua pengertian tersebut (ilmiah dan semi-ilmiah), maka yang disebut karangan nonilmiah adalah karangan yang tidak terikat pada aturan yang baku. Beberapa contoh yang dapat disebut untuk memenuhi kriteria karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerita pendek, cerita bersambung, novel, roman, puisi, dan naskah drama.
5.    Diksi, Ejaan, dan Tanda Baca
a.    Diksi
Diksi adalah pilihan kata. Diksi sangat penting dalam berkomuni-kasi secara lisan ataupun tulisan. Dalam komunikasi lisan, diksi sangat besar pengaruhnya dalam menyampaikan bahasa yang membuat orang mengerti dan tidak tersinggung..
Dalam bahasa tulis, seperti dunia karang-mengarang, diksi juga merupakan unsur yang tidak kalah pentingnya. Dalam hal ini Glenn R. Capp dan Richard Capp Jr (Rahmat, 1999: 47) memberikan kriteria kata yang baik adalah kata yang memiliki kejelasan, ketepatan, dan kemenarikan.
Hal yang membuat diksi perlu diterapkan dengan baik adalah karena diksi mempengaruhi alunan bahasa. Ini juga biasanya terkandung dalam pemakaian Gaya Bahasa dan Idiom.

Pemakaian gaya bahasa adalah cara memilih kata yang bertujuan mengungkapkan makna agar memperoleh efek kuat, mendalam, dan hidup, karena melalui gaya bahasalah maksud penutur tersampaikan. Ada beberapa cara penutur menyampaikan gaya bahasa yang biasa disebut majas yaitu:(1). majas persamaan atau simile; (2). majas perumpamaan; (3). majas metafor; (4). majas metonomia; (5). majas personifikasi; (6). majas litotes; (7). majas hiperbol.
Sedangkan idiom biasanya akan berhubungan dengan makna-makna bahasa yang kita pilih yang di dalamnya menyangkut makna konotatif dan denotatif. Makna sinonim, homonim dan polisemi.
b.    Ejaan dan Tanda Baca
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 285), kata eja adalah kata yang hampir tidak pernah berdiri sendiri. Pemakaian kata eja sering didahului dengan imbuhan me- menjadi mengeja yang artinya melafalkan, (menyebutkan) huruf-huruf satu demi satu atau digabung dengan akhiran –an menjadi ejaan yang artinya kaidah-kaidah, cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca.
Menurut Arifin dan Tasai (2000: 25), ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antar-hubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan pengga-bungannya dalam suatu bahasa). Secara teknis, ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan penulisan tanda baca. Jadi, ejaan adalah aturan yang dipergunakan dalam tulisan (tatatulis) yang meliputi: 1) penulisan huruf, 2) penulisan kata, 3) penulisan unsur serapan dan 4) penulisan tanda baca.
Ejaan yang pernah digunakan dalam Bahasa Indonesia dari dulu hingga sekarang yang paling menonjol ada 3 macam. Pertama, Ejaan Van Ophuisjen yang diresmikan tahun 1901. Ejaan Van Ophuisjen berciri menggunakan dua lambang untuk satu bunyi yaitu huruf (oe) untuk (u) dan lambang koma (’) untuk (k) ain, hamzah dan tanda (trema) untuk beberapa kata yang berasal dari bahasa Arab. Kedua, Ejaan Soewandi yang diresmikan 19 Maret 1947 yang menetapkan perubahan (oe) menjadi u, dan diberlakukannya angka dua (2) untuk kata menyatakan kata berulang (kata ulang). Ketiga, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang diberlakukan mulai 16 Agustus 1972 dengan pijakan dasarnya mengatur penulisan ejaan dalam 4 hal, yaitu: (1) penulisan huruf, (2) penulisan kata, (3) penulisan unsur serapan dan (4) penulisan tanda baca.
6.    Kalimat Efektif
a.    Pengertian dan Syarat-syarat Kalimat Efektif
Kalimat efektif dapat diartikan sebagai kalimat yang penggunaannya dapat berhasil guna atau dapat mencapai sasaran yang dituju. dengan kata lain kalimat efektif adalah kalimat yang mampu memberikan makna pada pembacanya, persis seperti apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Kalimat dapat menjadi efektif jika memperhatikan beberapa persyaratan yaitu kebenaran struktur, kelogisan, kehematan, dan ketidaktaksaan. Di samping itu kalimat akan menjadi sangat baik jika memenuhi ketentuan (1) kesejajaran bentuk, (2) penekanan, dan (3) kevariasian.
b.    Penyusunan Kalimat Efektif
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun kalimat efektif di antaranya adalah, kata penghubung intrakalimat dan antarkalimat, kemudian gagasan pokok dalam sebuah kalimat, penggabungan yang menyatakan sebab dan waktu, penggabungan kata ”dengan”, ”yang”, ”dan”, penggabungan kalimat yang menyatakan hubungan akibat dan hubungan tujuan. Selain itu untuk mencapai efektivitas dan memberikan nuansa yang menarik pembaca, pada sebuah kalimat terdapat variasi-variasi. Variasi tersebut di antaranya adalah, subjek pada awal kalimat, kata modal pada awal kalimat, frase pada awal kalimat, jumlah kalimat dan jenis kalimat.

G.   Menulis Karangan
1.    Definisi Mengarang
Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Salah satu bentuk kegiatan kreatif menulis adalah mengarang. Apabila seseorang menggunakan buah pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman atau lainya kedalam bahasa tulis, kegiatan tersebut adalah kegiatan mengarang. Untuk dapat menyampaikan suatu pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman atau lainya, seseorang perlu memiliki pembendaharaan kata yang memadai, terampil menyusun kata–kata menjadi kalimat yang jelas, dan mahir memakai bahasa secara efektif. Sebagaimana dikemukakan oleh The Liang Gie ( 1992 : 18 ), bahwa “Untuk dapat menyampaikan gagasan dan fakta secara lincah dan kuat, seseorang perlu memiliki pembendaharaan kata yang memadai, terampil menyusun kata–kata menjadai beraneka kalimat yang jelas, dan mahir memakai bahasa secara efektif”. Menurut pengertianya, “mengarang adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengumpulkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami”. ( The Liang Gie, 1992 : 17 ).
Dalam proses karang – mengarang setiap ide perlu dilibatkan pada suatu kata, kata – kata dirangkai menjadi sebuah kalimat membentuk paragraf, dan paragraf – paragraf akhirnya mewujudkan sebuah karangan. Sedangkan karangan merupakan hasil dari kegiatan mengarang, yaitu perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dipahami oleh orang lain.
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa mengarang adalah kegiatan menulis yang tersusun dengan teratur dari kata, kalimat, sampai paragraf yang saling berhubungan dan merupakan kesatuan yang utuh, dengan maksud menceritakan kejadiaan atau peristiwa, mempercakapkan sesuatu, dan tujuan lainya.
2.    Unsur Karang Mengarang
Berbicara mengenai karangan baik yang berupa karangan pendek maupun panjang, maka kita harus berbicara mengenai beberapa hal atau masalah disekitar karangan.
The Liang Gie (1992 : 17) mengemukakan ada 4 (empat) unsur dalam mengarang yaitu sebagai berikut :
a.  Gagasan ( Idea ) yaitu topik berikut tema yang diungkapkan secara tertulis.
b.  Tuturan ( Discourse ) yaitu bentuk pengungkapan gagasan sehingga dapat dipahami pembaca. Ada 4 ( empat ) bentuk mengarang atau tuturan mengarang:
1)  Pencarian (Narration ) bentuk pengungkapan yang menyampaikan sesuatu peristiwa / pengalaman .
2)  Pelukisan ( Description ) bentuk pengungkapan yang menggambarkan pengindraan, perasaan mengarang tentang mecam – macam hal yang berada dalam susunan ruang ( misalnya : pemandangan indah, lagu merdu, dll )
3)  Pemaparan ( Exposition ) bentuk pengungkapan yang meyajikan secara fakta – fakta yang bermaksud memeberi penjelasan kepada pembaca mengenai suatu ide, persoalan, proses atau peralatan.
4)  Perbincangan ( Argumentation ) bentuk pengungkapan dengan maksud menyalin pembaca agar mengubah pikiran, pendapat, atau sikapnya sesuai dengan yang dihadapi pengrang.
c.    Tatanan (Organization) yaitu tertib pengaturan dan peyusunan gagasan mengindahkan berbagai asas, aturan, dan teknik sampai merencanakan rangka dan langkah .
d.    Wahana (Medium ) ialah sarana penghantar gagasan berupa bahasa tulis yang terutama menyangkut kosa kata, gramatika ( tata bahasa ), dan terotika ( seni memekai bahasa secara efektif )
3.    Tujuan Pengajaran Mengarang
 Menurut Ngalim Purwanto, dan Djeniah Alim (1997 : 58) mengemukakan  bahwa tujuan pengajaran mengarang sama dengan tujuan pengajaran bercakap – cakap hanya berbeda dengan bentuk tulisan, yaitu :
a.    Memperkaya pembendaharaan bahasa positif dan aktif
b.    Melatih melahirkan pikiran dan perasaan dengan tepat
c.    Latihan memaparkan pengalaman – pengalaman dengan tepat.
d.    Latihan–latihan penggunaan ejaan yang tepat (ingin menguasai bentuk bahasa).
4.    Langkah-langkah Menulis Karangan
a.    Perencanaan Karangan
Perencanaan disusun sebelum suatu kegiatan dilakukan atau merupakan suatu persiapan. Perencanaan karangan tidak ubahnya seperti perencanaan dalam kegiatan-kegiatan yang lain. Tujuan dibuatnya sebuah rencana adalah untuk mencapai hasil dari suatu kegiatan secara maksimal. Dalam kegiatan menulis perencana karangan tergolong ke dalam tahap prapenulisan. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan merumuskan tujuan karangan, menentukan topik dan sub-subtopik, menetapkan tujuan dan sasaran, mengumpulkan bahan atau informasi yang diperlukan, serta mengorganisasikan ide atau gagasan dalam bentuk kerangka karangan.
Topik karangan adalah hal yang menjadi bahan pembicaraan dalam sebuah tulisan. Topik karangan harus bermanfaat, layak dibahas, menarik, dikenal baik, bahan mudah didapati, tidak terlalu luas, dan terlalu sempit. Topik yang terlalu luas dapat dibatasi dengan 3 cara yaitu dengan menggunakan diagram jam, diagram pohon, dan piramida terbalik. Syarat menentukan topik adalah menguasai materi yang akan dibahas atau ditulis. Jika topik dikuasai, sub-subtopik akan mudah ditentukan.
Menentukan tujuan karangan penting dilakukan penulis untuk menentukan bentuk karangan (ilmiah, nonilmiah atau sastra, nonsastra) dan tingkat kerincian karangan. Menentukan sasaran karangan sangat diperlukan untuk menentukan diksi dan cara penyajian yang tepat sesuai dengan status sosial, jenjang pendidikan, dan tingkat kemampuan yang dimiliki pembacanya. Hal ini dilakukan agar apa yang kita tulis dapat dipahami oleh pembacanya.
Sebelum kita menulis, kita harus mencari, mengumpulkan, dan memilih bahan-bahan atau informasi yang relevan dengan topik yang akan kita bahas. Dengan informasi yang lengkap dan relevan maka akan memudahkan penulis dalam mengembangkan topik karangan. Selain itu, tulisan/karangan kaya akan informasi yang berhubungan dengan topik yang sedang kita bahas, pembahasan topik akan lebih mendalam dan luas, dan pembaca akan memperoleh informasi yang lengkap. Bahan-bahan atau informasi yang dibutuhkan penulis dapat berupa artikel, gambar/foto, hasil laporan penelitian/pengamatan, hasil wawancara, dan sebagainya.
b.    Menulis Kerangka Karangan
Kerangka karangan menurut Akhadiah (1994: 25) merupakan suatu rencana kerja yang mengandung ketentuan-ketentuan tentang bagaimana kita menyusun karangan. Tidak berbeda jauh dengan Akhadiah, Finoza (2001: 179) juga mengungkapkan bahwa kerangka karangan adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Sebuah karangan atau tulisan minimal menggunakan tiga bagian penting, yaitu pendahuluan, tubuh karangan, dan kesimpulan. Manfaat yang dapat Anda peroleh bila membuat kerangka karangan adalah sebagai berikut.; (a)  Membantu Anda melihat apa saja yang perlu disajikan dalam tulisan atau karangan., (b) Membantu Anda mengembangkan gagasan/ide lebih teratur, logis, dan terfokus, (c) Membantu Anda mencegah pengulangan paparan ide, (d) Membantu Anda memaparkan data lebih lengkap.
Jenis kerangka karangan berdasarkan cara mengungkapkan pokok-pokok pembicaraan ke dalam kerangka karangan terbagi atas dua jenis, yaitu kerangka topik dan kerangka kalimat. Pada kerangka topik, pokok pembicaraan diungkapkan dengan menggunakan kata atau kelompok kata. Pada kerangka kalimat, pokok pembicaraan diungkapkan dengan menggunakan kalimat hal-hal yang harus diperhatikan ketika akan membuat kerangka karangan adalah sebagai berikut, (a) Penyusunan kerangka karangan harus sesuai dengan topik yang telah Anda pilih, (b) Penyusunan kerangka karangan harus sistematis dan logis, (c) Penyusunan kerangka karangan untuk mempermudah penyusunan karangan.
Untuk memperoleh kerangka karangan yang tersusun secara sistematis dan logis, hendaklah ditempuh beberapa langkah kegiatan berikut ini. (a) Pengumpulan ide, (b) Penyaringan ide dan penyempurnaan ide, (c) Pengelompokan ide, (d) penyusunan urutan ide
Kerangka karangan dapat dibentuk dengan sistem tanda atau kode tertentu berupa huruf dan angka. Tanda-tanda yang dipakai harus ada pasangannya (minimal satu pasangan) dan Penggunaan pasangan tanda harus konsisten. Kerangka karangan berdasarkan cara mengungkapkan pokok-pokok pembicaraan ke dalam kerangka karangan terbagi atas dua jenis, yaitu kerangka topik dan kerangka kalimat. Kerangka kalimat merumuskan setiap topik, subtopik, maupun sub-subtopik memperguna-kan kalimat berita yang lengkap. Kerangka topik mengungkapkan pokok pembicaraan dengan menggunakan kata atau kelompok kata (frase).
Untuk menilai sebuah kerangka karangan, Anda harus memperhati-kan syarat-syarat kerangka karangan yang baik, yaitu: (a) pengungkapan maksud harus jelas; (b) tiap subpokok bahasan dalam kerangka karangan mengandung satu gagasan; (c) pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis; (d) harus mempergunakan pasangan tanda yang konsisten.
5.    Macam – Macam Karangan
Macam–macam karangan yang dapat diajarkan dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.    Macam Karangan Menurut Tingkatan
1)  Karangan permulaan
2)  Karangan sebenarnya ( Karangan lanjutan ).
b.    Macam Karangan Menurut Susunannya
1)    Karangan Terikat
2)    Karangan Bebas
3)    Karangan setengah bebes terikat
(Ngalim Purwanto dan Djeinah Alim, 1997 : 59)
c.    Macam Karangan Menurut isi dan Bentuknya
1)    Karangan Narasi
Narasi adalah karangan yang mengisahkan atau menceritakan suatu peristiwa atau kejadian dalam suatu rangkaian waktu.
Tujuan pengembangan wacana narasi adalah (a). ingin memberikan informasi atau wawasan dan memperluas pengetahuan pembaca, dan, (b) ingin memberikan pengalaman estetis kepada pembaca.
Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.
Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris, sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif. Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Sedangkan contoh narasi sugestif adalah novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.
Kedua tujuan tersebut akan menghasilkan bentuk wacana narasi yang berbeda, yaitu narasi ekspositoris dan narasi sugestif
Perbedaan antara narasi ekspositoris dan narasi ugesti adalah sebagai berikut.
Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada konfliks. Selain alur cerita, konfliks dan susunan kronologis, ciri-ciri narasi lebih lengkap lagi diungkapkan oleh Atar Semi (2003: 31) sebagai berikut:
a)    Berupa cerita tentang peristiwa atau pengaalaman penulis. 
b)    Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya.
c)    Berdasarkan konfliks, karena tanpa konfliks biasanya narasi tidak menarik.
d)    Memiliki nilai estetika.
e)    Menekankan susunan secara kronologis.
Ciri yang dikemukakan Keraf memiliki ciri berisi suatu cerita, menekankan susunan kronologis atau dari waktu ke waktu dan memiliki konfliks. Perbedaannya, Keraf lebih memilih ciri yang menonjolkan pelaku.
Tujuan menulis karangan narasi secara fundamental yaitu:
a)    Hendak memberikan informasi atau wawasan dan memperluas pengetahuan.
b)    Memberikan pengalaman estetis kepada pembaca.
c)    Langkah-langkah menulis karangan narasi:
d)    Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan.
e)    Tetapkan sasaran pembaca kita.
f)     Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur.
g)    Bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita.
h)   Rincian peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung cerita.
i)     Susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang.
Jenis-jenis Karangan Narasi:
a)    Narasi Sugestif; (1). menyampaikan suatu makna atau suatu amanat yang tersirat, (2). menimbulkan daya khayal, (3). penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna, sehingga kalau perlu penalaran dapat dilanggar, (4). bahasanya lebih condong ke bahasa figuratif dengan menitikberatkan pada penggunaan kata-kata konotatif.
b)    Narasi Ekspositoris; (1). memperluas pengetahuan, (2). menyampaikan informasi faktual mengenai sesuatu kejadian, (3). didasarkan pada penalaran untuk mencapai kesepakatan rasional, (4). bahasanya lebih condong ke bahasa informatif dengan titik berat pada pemakaian kata-kata denotatif. Komponen-komponen pembentuk prinsip dasar narasi sugesti adalah alur, penokohan, latar, dan sudut pandang.
Langkah-langkah praktis yang digunakan dalam mengembangkan karangan narasi; (1). Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan, (2). Tetapkan sasaran pembaca kita, (3). Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur, (4). Bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, perkembangan dan akhir cerita, (5). Rinci peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung cerita, (6). Susunlah tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang.
Pola narasi secara sederhana berbentuk susunan dengan urutan awal – tengah – akhir.
a)    Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca.
b)    Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.
c)    Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.
Langkah menyusun narasi (terutama yang berbentuk fiksi) cenderung dilakukan melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Oleh karena itu, cerita dirangkai dengan menggunakan "rumus" 5 W + 1 H;  (a). (What) Apa yang akan diceritakan, (b) (Where) Di mana seting/lokasi ceritanya, (c). (When) Kapan peristiwa-peristiwa berlangsung, (d) (Who) Siapa pelaku ceritanya, (e) (Why) Mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan (f) (How) Bagaimana cerita itu dipaparkan.
2)     Karangan Deskripsi
Karangan  deskripsi adalah karangan yang berusaha untuk memindah-kan kesan, hasil pengamatan, dan perasaannya kepada pembaca. Penulis berusaha untuk menyampaikan sifat dan semua rincian wujud yang ditemukan pada objek yang ditulis itu. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan atau memungkinkan terciptanya daya khayal atau imajinasi kepada para pembacanya, sehingga seolah-olah pembaca melihat atau merasakan sendiri objek yang dibicarakan secara keseluruhan seperti yang dialami oleh penulisnya.
Berdasarkan tujuannya, deskripsi dibedakan menjadi dua yaitu, (1) deskripsi sugestif dan (2) deskripsi teknis (deskripsi ekspositoris), sedangkan berdasarkan cara pendekatannya agar objek yang digambar-kan dapat tepat maksudnya dibagi menjadi (1) pendekatan realistis, (2) pendekatan impresionistis, dan (3) pendekatan menurut sikap pengarang.
Berdasarkan kategori yang biasa diungkapkan, ada dua objek yang dapat kita deskripsikan, hal itu adalah deskripsi orang dan deskripsi tempat.
Untuk mempermudah melakukan pendeskripsian, berikut adalah rambu-rambu yang dapat Anda ikuti; (1). Menentukan hal apa yang hendak dideskripsikan, (2). Merumuskan tujuan pendeskripsian, (3). Menetapkan bagian yang akan dideskripsikan, (4). Merinci dan menyistematiskan hal-hal yang menunjang kekuatan bagian yang akan dideskripsikan.
Karangan jenis ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut. Karangan deskripsi memiliki ciri-ciri seperti: (a) menggambarkan sesuatu, (b) penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera, (c) membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.
Pola pengembangan paragraf deskripsi: (a) Paragraf Deskripsi Spasial, paragraf ini menggambarkan objek kusus ruangan, benda atau tempat, (b) Paragraf Deskripsi Subjektif, paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis, (c) Paragraf Deskripsi Objektif, paragraf ini menggambarkan objek dengan apa adanya atau sebenarnya.
Langkah menyusun Karangan deskripsi:
a)  Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan
b)  Tentukan tujuan
c)  Mengumpulkan data dengan mengamati objek yang akan dideskripsikan
d)  Menyusun data tersebut ke dalam urutan yang baik (menyusun kerangka karangan)
e)  Menguraikan kerangka karangan menjadi dekripsi yang sesuai dengan tema yang ditentukan
Contoh karangan deskripsi :
Tepat pukul 06.00 aku terbangun, diiringi dengan suara - suara ayam yang berkokok seolah menyanyi sambil membangunkan orang - orang yang masih tidur. serta dapat ku lihat burung - burung yang berterbangan meninggalkan sarangnya untuk mencari makan.Dari timur sang surya menyapaku dengan malu" untuk menampakkan cahayanya. Aku berjalan kehalaman depan rumah tepat dihadapan ku ada sebuah jalan besar untuk berlalu lintas dari kejauhan tampak sawah" milik petani yang ditanami padi masih berwarna hijau terlihat sangat sejuk, indah, dan damai. Dari kejauhan pula terlihat seorang petani yang sedang membajak sawahnya yang belum ditanami tumbuhan, dan ada juga petani yang sedang mencari rumput untuk makan binatang peliharaannya seprti kambing, sapi, dan kerbau. Didesaku rata" penduduknya sebagai petani.
Pagi ini terlihat sangat sibuk, di jalan" terlihat ibu-ibu yang sedang berjalan menuju psar untuk berjualan sayur. Tetanggaku seorang peternak bebek yang juga tidak kalah sibuknya dengan orang". Pagi-pagi sekali dia berjalan menggiring bebeknya kerawah dekat sawah untuk mencari makan, bebek yang pintar berbaris dengan rapi pengembalanya. Sungguh pemandangan yang sangat menarik dilihat ketika kita bangun tidur.
Dihalaman rumah kakekku yang menghadap ketimur terdapat pohon-pohon yang rindang, ada pohon mangga yang berbuah sangat lebat, disamping kiri pohon mangga terdapat pula pohon jambu air yang belum berbuah karena belum musimnya. Dan disebelah kanan rumah ada pohon rambutan yang buahnya sangat manis rasanya. sungguh pemandangan yang sangat indah yang sangat asri dan damai ini adalah tempat tinggal kakek ku dan tempat kelahiran ku.
3)    Eksposisi
Karangan  eksposisi adalah karangan yang berusaha untuk memaparkan, menerangkan, atau menginformasikan sesuatu hal yang berfungsi untuk memperluas pengetahuan, pandangan, atau wawasan pembacanya.
karangan eksposisi dikembangkan dengan struktur: pendahuluan, tubuh wacana, dan penutup atau kesimpulan. Tiap-tiap bagian tersebut ditulis secara utuh sehingga apa yang ingin disampaikan dapat tertangkap oleh pembaca dengan mudah.
Langkah yang harus kita tempuh dalam membuat eksposisi adalah: (a). menentukan topik wacana, (b). menentukan tujuan penulisan, dan (c). merencanakan paparan dengan membuat kerangka yang lengkap dan tersusun secara baik
Teknik Pengembangan Eksposisi:
a)     Teknik Identifikasi
Sebuah teknik pengembangan eksposisi yang menyebutkan ciri-ciri atau unsur-unsur yang membentuk suatu hal atau objek sehingga pembaca dapat mengenal objek itu dengan tepat dan jelas.
b)    Teknik Perbandingan
Teknik yang digunakan untuk mengungkapkan kesamaan-kesamaan atau perbedaan-perbedaan antara satu hal dengan hal yang lain. Dalam menyampaikan uraian dengan teknik perbandingan, hal yang harus kita perhatikan adalah tujuan penggunaannya. Teknik yang dapat digunakan untuk menyampaikan perbandingan adalah: (a). Perbandingan Langsung, (b). Analogi, (c). Perbandingan Kemungkinan
c)    Teknik ilustrasi
Teknik ini berusaha memberikan gambaran, contoh-contoh, atau penjelasan yang khusus atau nyata.
d)    Teknik Klasifikasi
Teknik klasifikasi merupakan suatu metode untuk menempatkan barang-barang atau mengelompokkan bermacam-macam subjek dalam suatu sistem kelas.
e)    Teknik Definisi
Definisi adalah penjelasan terhadap arti kata atau pengertian suatu kata, frasa atau kalimat.
f)     Teknik Analisis
g)    Teknik analisis merupakan cara memecahkan suatu pokok masalah. Teknik analisis dapat dibagi atas sebagai berikut; (a). Analisis Sebab-Akibat, (b). Analisis Bagian, (c). Analisis Fungsional, (d). Analisis Proses
Langkah menyusun eksposisi:
a)     Menentukan topik/tema
b)    Menetapkan tujuan
c)     Mengumpulkan data dari berbagai sumber
d)    Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
e)     Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.
Contoh karangan eksposisi:
Pada dasarnya pekerjaan akuntan mencakup dua bidang pokok, yaitu akuntansi dan auditing. Dalam bidang akuntasi, pekerjan akuntan berupa pengolahan data untuk menghasilkan informasi keuangan, juga perencanaan sistem informasi akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan informasi keuangan.
Dalam bidang auditing pekerjaan akuntan berupa pemeriksaan laporan keuangan secara objektif untuk menilai kewajaran informasi yang tercantum dalam laporan tersebut.
4)    Karangan Argumentasi
Argumentasi adalah karangan yang terdiri atas paparan alasan dan penyintesisan pendapat untuk membangun suatu kesimpulan. Isi karangan memuat tiga elemen utama yaitu pernyataan (claim), alasan (support/graound ) dan pembenaran (warrant ). Di samping itu ada juga elemen tambahan yaitu: pendukung (backing), modal (modal qualifiers) dan sanggahan (rebutta). Tujuannya ada bermacam-macam: (a) semata-mata untuk menyampaikan pandangan, (b) mendiskusikan suatu persoalan tanpa perlu mencapai suatu penyelesaian, (c) meng-usahakan suatu pemecahan masalah, (d) mengupayakan keyakinan pembaca agar menyetujui dan terpengaruh dengan alasan-alasan penulis.
Adapun yang termasuk ke dalam karangan argumentasi ini antara lain: makalah, paper, (seminar, simposium, dan lokakarya), esai, skripsi, tesis, disertasi, dan naskah tuntutan di pengadilan seperti: naskah pembelaan, pertanggungjawaban, dan surat keputusan. Semua macam karangan itu dikembangkan dengan menggunakan dua teknik pengembangan argumentasi yaitu teknik deduktif dan teknik induktif.
Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/kesimpulan dengan data/fakta sebagai alasan/bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.
Langkah menyusun argumentasi:
a)    Menentukan topik/tema
b)    Menetapkan tujuan
c)    Mengumpulkan data dari berbagai sumber
d)    Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
e)    Mengembangkan kerangka menjadi karangan argumentasi
Contoh karangan argumentasi:
Jiwa kepahlawanan harus senantiasa dipupuk dan dikembangkan karena dengan jiwa kepahlawanan, pembangunan di negara kita dapat berjalan dengan sukses. Jiwa kepahlawanan akan berkembang menjadi nilai-nilai dan sifat kepribadian yang luhur, berjiwa besar, bertanggung jawab, berdedikasi, loyal, tangguh, dan cinta terhadap sesama. Semua sifat ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan di berbagai bidang.
5)    Karangan Persuasi
Persuasi adalah karangan yang isinya berusaha meyakinkan pembaca dengan menggunakan bahasa yang bernada membujuk. Istilah persuasi berasal dari bahasa Inggris persuasion diturunkan dari kata to persuade yang artinya membujuk atau meyakinkan. Secara prinsip pengertian persuasi dengan argumentasi hampir serupa. Keduanya sama-sama menggunakan argumen-argumen yang kuat dalam meyakinkan lawan bicara. Perbedaannya terletak pada penggunaan bahasa. Jika pada karangan argumentasi bahasa yang dipergunakan cukup menjelaskan pembuktian pembaca yang bertujuan pembaca meyakini. Pada karangan argumentasi, logika yang digunakan merupakan unsur utama. Diksi yang dipergunakan bertujuan mencari efek tanggapan penalaran. Pada karangan persuasi bahasa yang dipergunakan bermuatan penuh rayuan, daya ajuk, daya bujuk atau himbauan untuk membangkitkan pembaca tergiur dan bereaksi untuk ikut serta mengikuti keinginan penulis. Diksi yang dipergunakan bertujuan mencari efek tanggapan emosional. Hal inilah yang menimbulkan ketergiuran pembaca untuk meyakini dan menuruti himbauan implisit maupun eksplisit yang dilontarkan penulis.
Metode pengembangan karangan persuasi pada lazimnya adalah: rasionalisasi, identifikasi, sugesti, konformitas, penggantian dan proyeksi.
Alat pengembangan persuasi adalah (1) Bahasa, yang berfungsi seluas dan tajam sehingga sering berakibat terjadinya penipuan, kedengkian, percekcokan dan macam lainnya. (2) Nada yang digunakan seperti: marah, senang, sedih, dan bersemangat yang dapat dipergunakan seseorang sebagai alat untuk mempengaruhi perilaku orang banyak. (3) Detail esensial dalam yang mendukung tujuan sehingga memperjelas penalaran yang kita harapkan pendetailan dilakukan dengan cara menyeleksi seberapa penting detail itu dalam membantu pembaca memahami tulisan kita. (4) Organisasi yaitu pengaturan detail di dalam karangan kita itu agar keyakinan dan pandangan pembaca dapat berubah yang bisa ditempuh melalui cara induktif, cara deduktif dan cara penonjolan (5) Kewenangan menyangkut penerimaan dan kesadaran pembaca terhadap pengarang sebagai orang yang berwenang karena diyakini.
Langkah menyusun persuasi:
a)    Menentukan topik/tema
b)    Merumuskan tujuan
c)    Mengumpulkan data dari berbagai sumber
d)    Menyusun kerangka karangan
e)    Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan persuasi
Contoh karangan persuasi
Salah satu penyakit yang perlu kita waspadai di musim hujan ini adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Untuk mencegah ISPA, kita perlu mengonsumsi makanan yang bergizi, minum vitamin dan antioksidan. Selain itu, kita perlu istirahat yang cukup, tidak merokok, dan rutin berolah raga, karena semua itu perlu proses dan cara yang berlanjut.
6.    Susunan Karangan
Susunan karangan atau wacana sebagaimana dikemukakan oleh Tarigan dan Sulistyaningsih (1996 : 362) adalah : “ Wacana dibentuk oleh paragraf – paragraf, sedangkan paragraf dibentuk oleh kalimat – kalimat. Kalimat – kalimat yang membentuk palagraf itu haruslah merangkai, kalimat yang satu dengan kalimat berikutnya harus berkaitan begitu seterusnya. Sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh atau membentuk sebuah gagasan. Selanjutnya paragraf dengan paragraf pun merangkai secara utuh membentuk sebuah wacana yang memiliki tema yang utuh “.
a.    Kata
Setiap gagasan pikiran atau perasaan dituliskan dalam kata – kata. Kata adalah unsur kata yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat di gunakan dalam bahasa. Untuk dapat menyampaikan gagasan, pikiran dan perasaan dalam tulisan karangan. Seorang perlu memiliki pembendaharaan kata yang memedai dan pemilihan kata yang tepat. “Dalam memilih kata itu harus diberikan dua persyaratan pokok yaitu (1) Ketepatan (2) Kesesuaian” (Suriamiharja et – al, 1996 : 25). Persyaratan ketepatan yaitu kata – kata yang dipilih harus secara tepat mengungkapkan apa yang ingin di ungkapkan sehingga pembaca juga dapat menafsirkan kata – kata tersebut tepat seperti maksud penulis. Persyaratan kedua yaitu kesesuaian. Hal ini menyangkut kecocokan antara kata–kata yang dipakia dengan kesempatan / situasi dengan keadaan pembaca. Apakah pilihan kata dan gaya bahasa yang dipergunakan tidak merupakan suasana atau tidak menyinggung perasaan orang yang hadir.
b.    Kalimat
Kalimat terbentuk dari gabungan anak kalimat, sedangkan anak kalimat adalah gabungan dari ungkapan atau frase, dan ungkapan itu sendiri merupakan rangkaina dari kata – kata .Kalimat yang dipergunakan dalam karangan berupa kalimat yang efektif yaitu kalimat yang benar dan jelas sehinga mudah dipahami orang lain. Sebuah kalimat efektif haruslah memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pandangan atau pembaca seperti apa yang terdapat pada pikiran penulis atau pembaca. Suryamiharja et-al (1996 : 38), Mangemukakan bahwa : Kaliamat efektif dalam bahasa tulis, haruslah memiliki unsur – unsur : (1) Dapat mewakili gagasan penulis (2) Sanggup menciptakan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pembaca seperti yang dipikirkan penulis.
c.    Paragraf
Paragraf adalah satu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari pada kalimat : paragraf merupakan kimpulan kalimat yang berkaitan dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan, Berkaitan dengan paragraf akhadiah, dkk (dalam Agus Suryamiharja, 1996 : 46), Menjelaskan bahwa “dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat utama atau kalimat topik, kalimat penjelas sapai kalimat penutup”.
Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam sebuah paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat topik, kalimat-kalimat penjelas, sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Paragraf dapat juga dikatakan sebagai sebuah karangan yang paling pendek (singkat). Dengan adanya paragraf, kita dapat membedakan di mana suatu gagasan mulai dan berakhir. Kita akan kepayahan membaca tulisan atau buku, kalau tidak ada paragraf, karena kita seolah-olah dicambuk untuk membaca terus menerus sampai selesai. Kitapun susah memusatkan pikiran pada satu gagasan ke gagasan lain. Dengan adanya paragraf kita dapat berhenti sebentar sehingga kita dapat memusatkan pikiran tentang gagasan yang terkandung dalam paragraf itu.
Paragraf adalah satuan bagian karangan yang digunakan untuk mengungkapkan sebuah gagasan dalam bentuk untaian kalimat. Ada dua hal kegunaan dari paragraf. Pertama, kegunaan paragraf yang terpenting adalah untuk memberi tanda adanya topik baru atau pengembangan topik lanjutan dari topik sebelumnya pada sebuah karangan. Dan kedua, adalah untuk menambahkan hal-hal yang penting atau untuk merinci atau menjelaskan apa yang sudah dibicarakan dalam paragraf sebelumnya.
Fungsi dari paragraf dalam karangan adalah :
1)    Sebagai penampung dari sebagian kecil jalan pikiran atau ide keseluruhan karangan.
2)    Memudahkan pemahaman jalan pikiran atau ide pokok karangan. (Tarigan, 1996 : 48).
Menurut Suriamuharja (1996 : 48) “Paragraf baik dan efektif harus memenuhi tiga parsyaratan, yaitu (1) Kohesi (Kesatuan) ; (2) Koherensi (Kepaduan) ; dan (3) Pengembangan/Kelengkapan paragraf”.
1)    Kohesi (Kesatuan)
Keraf (Suriamiharja, 1996 : 48) mengemukakan bahwa “yang dimaksud dengan kohesi / kesatuan dalam paragraf adalah semua kalimat yang membina paragraf secara bersama–sama menyatakan satu hal, satu tema tertentu”.
2)    Koherensi (Kepaduan)
Keraf (Suriamiharja, 1996 : 48) mengemukakan bahwa “yang dimaksed dengan koherensi / keterpaduan dalam paragraf adalah kekompakan hubungan antar sebuah kalimat dengan kalimat yang lain yang membentuk paragraf itu”.
3)    Pengembangan / Kelengkapan paragraf
Keraf (Suryamiharja, 1966 : 50), mengemukakan bahwa “pengembangan paragraf adalah penyusunan atau perincian dari gagasan – gagasan yang membina peragraf itu”, Suatu paragraf dikatakan berkembang atau lengkap jika kalimat topik atau kalimat utama dikembangkan atau dijelaskan dengan cara menjabarkannya dalam bentuk–bentuk kongkrit, dapat dengan cara pemaparan dan pemberian contoh, penganalisaan dan nilai – nilai.
Berdasarkan isi dan bentuknya, paragraf dibedakan menjadi:
1)     Paragraf Deskripsi
Jenis paragraf yang melukiskan atau menggambar sesuatu berdasarkan kesan-kesan dari pengamatan, pengalaman, dan perasaan penulisnya.
2)    Paragraf Narasi
Jenis paragraf yang menceritakan proses kejadian suatu peristiwa. Ciri-ciri karangan narasi menurut Keraf (2000:136), ciri karangan  narasi yaitu: menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan, dirangkai dalam urutan waktu,  berusaha menjawab pertanyaan, apa yang terjadi?, ada konfliks.

3)    Paragraf Eksposisi
Jenis paragraf yang berusaha untuk menerangkan, menguraikan, atau menyampaikan sesuatu hal yang dapat memperluas atau menambah pengetahuan dan pandangan pembacanya.
4)    Paragraf Argumentasi
Jenis paragraf yang berusaha untuk meyakinkan pembaca mengenai kebenaran yang disampaikan penulisnya.
5)    Paragraf Persuasi
Jenis paragraf yang ditujukan untuk memengaruhi pendapat dan sikap pembaca mengenai sesuatu hal yang disampaikan penulisnya.
Berdasarkan Sifat dan Tujuannya, Paragaf dibedakan menjadi:
1)    Paragraf Pembuka
Tiap jenis karangan akan mempunyai paragraf yang membuka atau menghantar karangan itu, atau menghantar pokok pikiran dalam bagian karangan itu. Oleh Sebab itu sifat dari paragraf semacam itu harus menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup menyiapkan pikiran pembaca kepada apa yag sedang diuraikan. Paragraf yang pendek jauh lebih baik, karena paragraf-paragraf yang panjang hanya akan meimbulkan kebosanan pembaca.
2)    Paragraf Penghubung
Paragraf penghubung adalah semua paragraf yang terdapat di antara paragraf pembuka dan paragraf penutup. Inti persoalan yang akan dikemukakan penulisan terdapat dalam paragraf-paragraf ini. Oleh Sebab itu dalam membentuk paragraf-paragraf penghubung harus diperhatikan agar hubungan antara satu paragraf dengan paragraf yang lainnya itu teratur dan disusun secara logis. Sifat paragraf-paragraf penghubung bergantung pola dari jenis karangannya. Dalam karangan-karangan yang bersifat deskriptif, naratif, eksposisis, paragraf-paragraf itu harus disusun berdasarkan suatu perkembangan yang logis. Bila uraian itu mengandung pertentangan pendapat, maka beberapa paragraf disiapkan sebagai dasar atau landasan untuk kemudian melangkah kepada paragraf-paragraf yang menekankan pendapat pengarang.
3)    Paragraf Penutup
Paragraf penutup adalah paragraf yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan. Dengan kata lain, paragraf ini mengandung kesimpulan pendapat dari apa yang telah diuraikan dalam paragraf-paragraf penghubung. Apapun yang menjadi topik atau tema dari sebuah karangan haruslah tetap diperhatikan agar paragraf penutup tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak berarti terlalu pendek. Hal yang paling esensial adalah bahwa paragraf itu harus merupakan suatu kesimpulan yang bulat atau betul-betul mengakhiri uraian itu serta dapat menimbulkan banyak kesan kepada pembacanya (Keraf,1980:63-66)
Berdasarkan Letak Kalimat Utama Paragraf dibedakan menjadi:
1)    Paragraf Deduktif
Paragraf dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat utama. Kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas yang berfungsi menjelaskan kalimat utama. Paragraf ini biasanya dikembangkan dengan metode berpikir deduktif, dari yang umum ke yang khusus. Dengan cara menempatkan gagasan pokok pada awal paragraf, ini akan memungkinkan gagasan pokok tersebut mendapatkan penekanan yang wajar. Paragraf semacam ini biasa disebut dengan paragraf deduktif, yaitu kalimat utama terletak di awal paragraf.
2)    Paragraf Induktif
Paragraf ini dimulai dengan mengemukakan penjelasan-enjelasan atau perincian-perincian, kemudian ditutup dengan kalimat utama. Paragraf ini dikembangkan dengan metode berpikir induktif, dari hal-hal yang khusus ke hal yang umum.
3)    Paragraf Gabungan atau Campuran
Pada paragraf ini kalimat topik ditempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf. Dalam hal ini kalimat terakhir berisi pengulangan dan penegasan kalimat pertama. Pengulangan ini dimaksudkan untuk lebih mempertegas ide pokok. Jadi pada dasarnya paragraf campuran ini tetap memiliki satu pikiran utama, bukan dua.
Contoh paragraf campuran seperti dikemukakan oleh Keraf (1989:73):
Sifat kodrati bahasa yang lain yang perlu dicatat di sini ialah bahwasanya tiap bahasa mempunyai sistem. Ungkapan yang khusus pula, masing-masing lepas terpisah dan tidak bergantung dari yang lain. Sistem ungkapan tiap bahasa dan sistem makna tiap bahasa dibatasi oleh kerangka alam pikiran bangsa yang memiliki bahasa itu kerangka pikiran yang saya sebut di atas. Oleh karena itu janganlah kecewa apabila bahasa Indonesia tidak membedakan jamak dan tunggal, tidak mengenal kata dalam sistem kata kerjanya, gugus fonem juga tertentu polanya, dan sebagainya. Bahasa Inggris tidak mengenal “unggah-ungguh”. Bahasa Zulu tidak mempunyai kata yang berarti “lembu”, tetapi ada kata yang berarti “lembu putih”, “lembu merah”, dan sebagainya. Secara teknis para linguis mengatakan bahwa tiap bahasa mempunyai sistem fonologi, sistem gramatikal, serta pola semantik yang khusus.
4)    Paragraf Tanpa Kalimat Utama
Paragraf ini tidak mempunyai kalimat utama, berarti pikiran utama tersebar di seluruh kalimat yang membangun paragraf tersebut. Bentuk ini biasa digunakan dalam karangan berbentuk narasi atau deskripsi.
Contoh paragraf tanpa kalimat utama:
Enam puluh tahun yang lalu, pagi-pagi tanggal 30 Juni 1908, suatu benda cerah tidak dikenal melayang menyusur lengkungan langit sambil meninggalkan jejak kehitam-hitaman dengan disaksikan oleh paling sedikit seribu orang di pelbagai dusun Siberi Tengah. Jam menunjukkan pukul 7 waktu setempat. Penduduk desa Vanovara melihat benda itu menjadi bola api membentuk cendawan membubung tinggi ke angkasa, disusul ledakan dahsyat yang menggelegar bagaikan guntur dan terdengar sampai lebih dari 1000 km jauhnya. (Intisari, Feb.1996 dalam Keraf, 1980:74) Sukar sekali untuk mencari sebuah kalimat topik dalam paragraf di atas, karena seluruh paragraf bersifat deskriptif atau naratif. Tidak ada kalimat yang lebih penting dari yang lain. Semuanya sama penting, dan bersama-sama membentuk kesatuan dari paragraf tersebut. (Sirai, 1985:70-71)
b)    Menurut Isi / Bentuk
(1)  Paragraf Deskripsi
Paragraf ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
Paragraf  deskripsi memiliki ciri-ciri seperti:
(a)  Menggambarkan atau melukiskan sesuatu.
(b)  Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera.
(c)  Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.
Pola pengembangan paragraf deskripsi:
(a)  Paragraf Deskripsi Spasial, paragraf ini menggambarkan objek kusus ruangan, benda atau tempat.
(b)  Paragraf Deskripsi Subjektif, paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis. Paragraf Deskripsi Objektif, paragraf ini menggambarkan objek dengan apa adanya atau sebenarnya.
Langkah menyusun deskripsi:
(a)  Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan.
(b)  Tentukan tujuan.
(c)  Mengumpulkan data dengan mengamati objek yang akan dideskripsikan.
(d)  Menyusun data tersebut ke dalam urutan yang baik (menyusun kerangka karangan).
(e)  Menguraikan kerangka karangan menjadi dekripsi yang sesuai dengan tema yang ditentukan.
Contoh Karangan Deskripsi:
Hand Phone BlackBerry Curve 8310, merupakan salah satu hp terlaris tahun ini. karna memiliki fitur yang lengkap guna mempermudah sipengguna hp untuk mengakses data dari internet. Memiliki camera 2 MP, memory internal 1Gb untuk menyimpan beberapa data seperti sms, video, mp3 dll. Menggunakan Full qwerty keyboard dan track ball navigation seperti computer. Ada juga maps untuk melihat peta dan jalan kalau sedang dalam perjalanan.
(3)  Paragraf Eksposisi
Paragraf eksposisi adalah paragraf yang bertujuan untuk memaparkan, menjelaskan, menyampaikan informasi, mengajarkan, dan menerangkan sesuatu tanpa disertai ajakan atau  desakan agar pembaca menerima atau mengikutinya.
Ciri-ciri paragraf eksposisi:
(a)  Memaparkan definisi (pengertian).
(b)  Memaparkan langkah-langkah, metode, atau cara melaksanakan suatu kegiatan.
Ada beberapa jenis pengembangan dalam paragraf eksposisi;
1)    eksposisi definisi
Contoh:
Ozone therapy adalah pengobatan suatu penyakit dengan cara memasukkan oksigen ,urni dan ozon berenergi tinggi ke dalam tubuh melalui darah. Ozone therapy merupakan terapi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, baik untuk menyembuhkan penyakit yang kita derita maupun sebagai pencegah penyakit.
2)    eksposisi proses
Contoh:
Sampai hari ke-8, bantuan untuk para korban gempa Yogyakarta belum merata. Hal ini terlihat di beberapa wilayah Bantul dan Jetis. Misalnya, di Desa Piyungan. Sampai saat ini, warga Desa Piyungan hanya makan singkong. Mereka mengambilnya dari beberapa kebun warga. Jika ada warga yang makan nasi, itu adalah sisa-sisa beras yang mereka kumpulkan di balik reruntuhan bangunan. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa bantuan pemerintah kurang merata.
3)    Eksposisi klasifikasi
Pemerintah akan memberikan bantuan pembangunan rumah atau bangunan kepada korban gempa. Bantuan pembangunan rumah atau bangunan tersebut disesuaikan dengan tingkat kerusakannya. Warga yang rumahnya rusak ringan mendapat bantuan sekitar 10 juta. Warga yang rumahnya rusak sedang mendapat bantuan sekitar 20 juta. Warga yang rumahnya rusak berat mendapat bantuan sekitar 30 juta. Calon penerima bantuan tersebut ditentukan oleh aparat desa setempat dengan pengawasan dari pihak LSM
3)    eksposisi ilustrasi
contoh:
Pernahkan Anda menghadapi situasi tertentu dengan perasaan takut? Bagaimana cara mengatasinya? Di bawah ini ada lima jurus untuk mengatasi rasa takut tersebut. Pertama, persipakan diri Anda sebaik-baiknya bila menghadapi situasi atau suasana tertentu; kedua, pelajari sebaik-baiknya bila menghadapi situasi tersebut; ketiga, pupuk dan binalah rasa percaya diri; keempat, setelah timbul rasa percaya diri, pertebal keyakinan Anda; kelima, untuk menambah rasa percaya diri, kita harus menambah kecakapan atau keahlian melalui latihan atau belajar sungguh – sungguh.
4)    eksposisi perbandingan & pertentangan, dan
Contoh:
Pascagempa dengan kekuatan 5,9 skala richter, sebagian Yogyakarta dan Jawa Tengah luluh lantak. Keadaan ini mengundang perhatian berbagai pihak. Bantuan pun berdatangan dari dalam dan luar negeri. Bantuan berbentuk makanan, obat-obatan, dan pakaian dipusatkan di beberapa tempat. Hal ini dimaksudkan agar pendistribusian bantuan tersebut lebih cepat. Tenaga medis
5)    eksposisi laporan
Contoh:
Sebenarnya, bukan hanya ITS yang menawarkan rumah instan sehat untuk Aceh atau dikenal dengan Rumah ITS untuk Aceh (RI-A). Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Departemen Pekerjaan Umum juga menawarkan “Risha” alias Rumah Instan Sederhana Sehat. Modelnya hampir sama, gampang dibongkar-pasang, bahkan motonya “Pagi Pesan, Sore Huni”. Bedanya, sistem struktur dan konstruksi Risha memungkinkan rumah ini berbentuk panggung. Harga Risha sedikit lebih mahal, Rp 20 juta untuk tipe 36. akan tetapi, usianya dapat mencapai 50 tahun karena komponen struktur memakai beton bertulang, diperkuat pelat baja di bagian sambungannya. Kekuatannya terhadap gempa juga telah diuji di laboratorium sampai zonasi enam
(4)  Paragraf Argumentasi
Paragraf argumentasi adalah jenis paragraf yang mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat penulis dengan disertai bukti dan fakta (benar-benar terjadi).Tujuannya adalah agar pembaca yakin bahwa ide, gagasan, atau pendapat tersebut adalah benar dan terbukti.
Ciri-ciri Paragraf  argumentasi:
(a)  Menjelaskan pendapat agar pembaca yakin.
(b)  Memerlukan fakta untuk pembuktian berupa gambar/grafik, dan lain-lain.
(c)  Menggali sumber ide dari pengamatan, pengalaman, dan penelitian.
(d)  Penutup berisi kesimpulan.
Contoh karangan argumentasi
Perdagangan Global mendorong terbentuknya jaringan distribusi dan pasti penjualan yang kian tersebar terjadi dalam jaringan yang kuat , hidup dan bersistem dalam bisnis di Indonesia tambahannya perekonomian serta tekhnologi informasi dan saluran distribusi.
Contoh Paragraf Argumentasi:
Sebagian anak Indonesia belum dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Pernyataan demikian pernah dikemukakan oleh seorang pakar psikologi pendidikan Sukarton (1992) bahwa anakanak kecil di bawah umur 15 tahun sudah banyak yang dilibatkan untuk mencari nafkah oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak kecil yang mengamen atau mengemis di perempatan jalan atau mengais kotak sampah di TPA, kemudian hasilnya diserahkan kepada orang tuanya untuk menopang kehidupan keluarga. Lebih-lebih sejak negeri kita terjadi krisis moneter, kecenderungan orang tua mempekerjakan anak sebagai penopang ekonomi keluarga semakin terlihat di mana-mana.
5)    Paragraf Persuasi
Paragraf Persuasi adalah paragraf yang isinya berupa ajakan kepada pembaca agar melakukan sesuatu yang diajukan sepenulis.
Contoh :
Hadirilah!!!!!! senam pagi yang akan dilaksanakan di depan lobby ITC Cempaka Mas pada pukul 06.00 – selesai. Dengan intruktur senam profesional. Diharpkan menggunakan pakaian olah raga.
H.    Menulis Karya Ilmiah
Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Untuk memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan. Maka sudah selayaknyalah, jika tulisan ilmiah sering mengangkat tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah ditulis orang lain. Jikapun, tulisan tersebut sudah pernah ditulis dengan tema yang sama, tujuannya adalah sebagai upaya pengembangan dari tema terdahulu. Disebut juga dengan penelitian lanjutan.
Karya tulis ilmiah adalah : karya tulis yang memiliki karakteristik keilmuan dan memenuhi syarat keilmuan, yaitu:  (1) Isi kajian berada pada lingkup pengetahuan ilmiah, (2) Menggunakan metode berpikir ilmiah, (3) Sosok tulisan keilmuan
1.    Tahapan Menulis Karya Tulis Ilmiah:
1.    Untuk memulai menulis harus diawali dengan mengangkat permasalahan yang ada di lingkungan sekitar, mulai dari permasalahan yang sederhana sampai ke permasalahan yang paling kompleks.
2.    Ruang lingkup permasalahan harus dari yang kecil sampai lingkup yang besar, serta dari lingkup terbatas sampai lingkup terluas.
3.    Permasalahan yang diangkat harus merupakan masalah yang aktual, penting dan perlu.
2.    Ciri Ciri Karya Tulis Ilmiah
a.    Mengungkapkan suatu permasalahan secara logis,fakta yang terpercaya,serta analisis yang objektif.
b.    Pendapat-pendapat yang dikemukakan berdasarkan fakta dan tidak berdasarkan imajinasi,perasaan,atau pendapat yang bersifat subjektif.
c.    Ragam bahasa yang digunakan bersifat lugas,yaitu (1) menggunakan kalimat secara efektif, (2) menghindari kalimat yang bermakna ambigu(bermakna ganda), (3) menghindari penggunaan kata konotatif.
3.    Karakteristik Karya Tulis
a.    Merupakan hasil kajian literatur dan laporan pelaksanaan suatu kegiatan lapangan.
b.    Menunjukan pemahaman penulis tentang masalah yang dikaji secara teoritis,dengan kemampuan penulis dalam menerapkan prosedur dan prinsip atau teori.
c.    Menunjukkan kemampuan pemahaman terhadap isi dan berbagai sumber yang digunakan.
d.    Menujukkan kemampuan mengumpulkan berbagai sumber informasi dalam suatu kegiatan secara utuh.
4.    Menyusun Kerangka Karya Tulis
Sebelum menyusun karya tulis, Anda akan membuat kerangka karya tulis. Kerangka karya tulis ini sebagai rancangan atau garis besar yang bersumber dari bahan-bahan yang telah dikumpulkan. Bahan-bahan tersebut tidak selalu memiliki bobot yang sama. Oleh karena itu, bahan itu pun perlu diseleksi. Bahan-bahan tersebut dapat diperoleh dari wawancara dengan narasumber atau dengan membaca.
Berikut ini langkah-langkah yang dapa Anda lakukan ketika akan menyusun kerangka karya tulis.
a.    Menentukan tema karya tulis.
Contoh:
·         Menurunnya produksi beras.
b.  Mendaftar gagasan atau hal-hal yang akan dikembangkan          dalam karya tulis berdasarkan tema yang harus dipilih.
Contoh:
·         Penyebab turunnya produksi beras.
·         Hal-hal yang harus dilakukan untuk mengantisipasi turunnya produksi beras.
c.    Mendaftar hal-hal yang harus ditulis dalam karya tulis.
·         -Penyebab turunnya produksi beras. Masalah yang menyebabkan produksi padi turun. Dampak dari alih fungsi lahan pertanian.
·         -Hal-hal yang harus dilakukan untuk mengantisipasi turunnya produksi beras. Adanya undang-undang yang mengatur alih fungsi lahan. Penyuluhan kepada petani dan masyarakat.
d.    Menyusun kerangka karya tulis.
Contoh:
·         Penyebab turunnya produksi beras. Masalah yang menyebabkan produksi padi turun. Dampak dari alih fungsi lahan pertanian.
·         Hal-hal yang harus dilakukan untuk mengantisipasi turunnya produksi beras. Adanya undang-undang yang mengatur alih fungsi lahan. Penyuluhan kepada petani dan masyarakat.
5.    Sistematika Karya Tulis
1.    Bagian Pembukaan
1)    Kulit Luar/Halaman Judul
Contoh:
Yang harus dicantumkan pada kulit luar dan halaman judul karangan ilmiah adalah sebagai berikut:
a)    Judul karangan ilmiah lengkap dengan anak judul (jika ada)
b)    Keperluan Penyusunan
c)    Nama Penyusun
d)    Nama Lembaga Pendidikan
e)    Nama Kota
f)     Tahun Penyusunan
2)    Halaman Pengesahan
Dalam halaman ini dicantumkan nama guru pembimbing, kepala sekolah, dan tanggal, bulan, tahun persetujuan.
a)    Kata Pengantar
Kata pengantar dibuat untuk memberikan gambaran umum kepada pembaca tentang penulisan karangan ilmiah. Katapengantar hendaknya singkat tapi jelas. Yang dicantumkan dalam kata pengantar adalah (1) puji syukur kepada Tuhan, (2) keterangan dalam rangka apa karya dibuat, (3) kesulitan/ hambatan yang dihadapi, (4) ucapan terima kasih kepada pihak yang membantu tersusunnya karangan ilmiah, (5) harapan penulis, (6) tempat, tanggal, tahun, dan nama penyusun karangan ilmiah.
b)    Daftar Tabel
Tajuk Daftar Tabel dituliskan dengan huruf kapital semua dan terletak di tengah.
c)    Daftar Grafik, Bagan, atau Skema
Pada dasarnya penulisannya hampir sama seperti penulisan Daftar Tabel.
d)    Daftar Singkatan
Penulisan sama dengan penulisan Daftar Tabel, Grafik, Bagan,atau Skema.

b.    Bagian inti
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Bagian ini memuat alasan penulis mengambil judul itu dan   manfaat praktis yang dapat diambil dari karangan ilmiah tersebut. Alasan-alasan ini dituangkan dalam paragraf-paragraf yang dimulai dari hal yang bersifat umum sampai yang bersifat khusus. Misalnya,  karangan ilmiah bertema “Tingkat Pencemaran Air di Wilayah Jakarta Barat”.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang timbul akan dibahas dalam bagian pembahasan dan ini ada kaitannya dengan latar belakang masalah yang sudah dibahas sebelumnya. Permasalahan ini dirumuskan dalam kalimat-kalimat pertanyaan.
1.3 Tujuan Penulisan
Bagian ini mencantumkan garis besar tujuan pembahasan dengan jelas dan tujuan ini ada kaitannya dengan rumusan masalah dan relevansinya dengan judul. Tujuan boleh lebih dari satu.
1.4 Ruang Lingkup (Pembatasan Masalah)
Ruang lingkup ini menjelaskan pembatasan masalah yang dibahas. Pembatasan masalah hendaknya terinci dan istilahistilah yang berhubungan dirumuskan secara tepat. Rumusan ruang lingkup harus sesuai dengan tujuan pembahasan.
1.5 Landasan Teori/Kerangka Teori
Landasan teori berisi prinsip-prinsip teori yang mempengaruhi dalam pembahasan. Teori ini juga berguna untuk membantu gambaran langkah kerja sehingga membantu penulis dalam membahas masalah yang sedang diteliti.
1.6 Hipotesis
Hipotesis merupakan kesimpulan/perkiraan yang dirumuskan dan        untuk sementara diterima, serta masih harus dibuktikan kebenarannya dengan data-data otentik yang ada, pada bab-bab berikutnya. Hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan sederhana, serta cukup mencakup masalah yang dibahas.
1.7 Sumber Data
Sumber data yang digunakan penulis karangan ilmiah biasanya adalah kepustakaan, tempat kejadian peristiwa (hasil observasi), interview, seminar, diskusi, dan sebagainya.
1.8 Metode dan Teknik
a. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara mencari data bagi suatu penulisan, ada yang secara deduktif dan atau induktif. Mencari data dapat dilakukan dengan cara studi pustaka, penelitian lapangan, wawancara, seminar, diskusi, dan lain sebagainya.
b. Teknik Penelitian
Teknik penelitian yang dapat digunakan ialah teknik wawancara, angket, daftar kuesioner, dan observasi. Semua ini disesuaikan dengan masalah yang dibahas.
1.9 Sistematika Penulisan
Sistematika Penulisan adalah suatu tulisan mengenai isi pokok secara garis besar dari bab I sampai bab terakhir atau kesimpulan dari suatu karangan ilmiah.
Bab Analisis/Bab Pembahasan
Bab ini merupakan bagian pokok dari sebuah karangan ilmiah, yaitu masalah-masalah akan dibahas secara terperinci dan sistematis. Jika bab pembahasan cukup besar, penulisan dapat dijadikan dalam beberapa anak bab.
Bab Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi kesimpulan yang telah diperoleh dari penelitianyang telah dilakukan.  Kesimpulan adalah gambaran umum seluruh analisis dan relevansinya dengan hipotesis yang sudah dikemukakan. Yang dimaksudkan dengan saran adalah saran penulis tentangmetode penelitian lanjutan, penerapan hasil pene litian, atau beberapa saran yang ada relevansinya dengan hambatan yang dialami selama penelitian.
 Bagian Penutup
Daftar Pustaka
Tajuk daftar pustaka dituliskan dengan huruf kapital semua tanpa diberi tanda baca dan dituliskan di tengah-tengah. Dalam daftar pustaka dicantumkan semua kepustakaan, baik yang dijadikan acuan penyusunan karangan maupun yang dijadikan bahan bacaan, termasuk artikel, makalah, skripsi, disertasi, buku, dan lain-lain.

6.    Manfaat Karya Ilmiah
a.    Melatih kreativitas siswa dalam menuangkan gagasan pemikirannya (ide-idenya) tentang suatu kajian atau topik dari ilmu-ilmu yang sudah didalami. Di sini secara tidak langsung kamu juga dilatih untuk menerapkan kemampuan berpikir secara logis-sistematis, kemampuan membahasakan, kemampuan menganalisis-kritik, dll. lewat hasil tulisanmu itu.
b.    Karya tulis itu, bukan hanya berguna bagi dirimu saja tetapi juga sebagai bahan referensi ilmiah dan sumbangan pengetahuan bagi sekolah-mu, bagi para pembaca tentang apa yang anda sumbangkan lewat idemu melalui karya ilmiah tersebut.
Sebagai tuntutan akademik bagi para akademisi yang ingin berpetualang terus dalam dunia pengetahuan dan pendidikan. Dengan hasil karya tulis di SMU anda dilatih secara khusus untuk terbiasa menulis atau mengolah sesuatu yang menjadi obyek tulisan ilmiah anda sehingga dapat mempermudah anda manakala melanjutkan studi-studi ilmiah anda di berbagai PT dan uncuk mencapai gelar-gelar ilmiah lainnya.

Tidak ada komentar: